Aksara Elusif

Aksara Elusif

  • WpView
    Reads 163,419
  • WpVote
    Votes 7,886
  • WpPart
    Parts 48
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Sep 8, 2019
WpInfo
Poetry
Seseorang pernah bertanya padaku, apakah mengikhlaskanmu semudah itu? aku menjawab, mengikhlaskanmu butuh waktu yang panjang, hal itu sudah bermula dari awal aku menemukan diriku tumbuh di atas kata-katamu dan kamu tumbuh di atas kata-kataku. Highest rank #100 in Poetry (9/12/17)
All Rights Reserved
#257
berpuisi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mahligai Sunyi
  • Tentang Sebuah Rasa [SUDAH TERBIT]
  • Perkata
  • Cinta dan Takdir Rania [End]
  • KONSEKUENSI HATI
  • untuk seseorang yang pernah ku langitkan namanya
  • aku atau dia? || Fenly Un1ty ||
  • Aku, Kamu, dan Takdir Tuhan
  • My Thoughts [Completed]
  • DikaRanggi

Novel "Mahligai Sunyi": Senja mulai menua di balik jendela kaca, membiaskan cahaya jingga yang merayap perlahan di sudut ruangan. Aku duduk dalam diam, menatap kosong pada cangkir teh yang tak lagi mengepul. Aroma melati yang biasa menenangkan kini terasa hambar di inderaku. Aku terjebak dalam pusaran pikiranku sendiri, menggenggam kenyataan yang pahit namun tak bisa kutolak. Aku pernah percaya bahwa cinta adalah tentang memilih satu orang, bertahan dengannya dalam segala cuaca, dalam segala luka. Namun, kini aku mengerti bahwa terkadang, cinta juga berarti kehilangan-kehilangan harapan, kehilangan rasa percaya, bahkan kehilangan diriku sendiri dalam labirin luka yang diciptakan oleh seseorang yang seharusnya menjagaku. Arion adalah cintaku, atau setidaknya pernah menjadi. Aku mempercayainya lebih dari yang seharusnya, mencintainya lebih dari yang pantas. Namun, cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga. Tidak cukup untuk menghindarkanku dari rasa sakit yang berkali-kali ia hadiahkan. Tidak cukup untuk membuatnya berhenti mencari bahagia di tempat lain. Aku telah memaafkan, berkali-kali. Aku telah memberi kesempatan, hingga tak tahu lagi batas dari kata "cukup." Tetapi, sampai kapan aku harus terus bertahan? Sampai kapan aku harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri demi menjaga sesuatu yang terus menerus hancur? Dan di sinilah aku, berdiri di persimpangan. Antara bertahan dengan luka atau pergi dengan sisa-sisa keberanian yang kupunya. Aku tidak tahu bagaimana akhir dari kisah ini. Yang kutahu, aku hanya ingin menemukan kembali diriku yang telah lama hilang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines