Broken Inside

Broken Inside

  • WpView
    Reads 0
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 20, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
Karina Kesya. Seorang gadis bertampang 18an. Rambut cokat kepirangannya jatuh sepinggang. Ya.. Itu rambut. Berkilau. Namun tak pernah memanjang. Mata kosongnya menghujam seluruh penjuruh pandangannya. Mata itu berkedip, namun hampa. Hidung kecil berujung lancip berteger di antara matanya. Mengeluarkan udara, namun dingin tanpa kehidupan. Wajahnya tirus. Mulus tanpa goresan kepedihan. Tanpa goresan kebahagiaan. Tanpa ekspresi. Dagu lancipny terpampang indah. . Karina Kesya merupakan gadis baik hati. Cantik. Anggun. Yang bergelut di dunia musik. Ya.. Dia adalah se'SOSOK' manusia sempurna. Hanya sesosok. Bukan seorang. . Di sisi lain, Serena Lucia, 'SOSOK' lain yang menguasai sebuah tubuh yang sama. Serena Lucia merupakan gadis yang berhati dingin. Cantik, namun mematikan. Aura kematian selalu tercipta olehnya. . Dua sosok ini menggerogoti sebuah figur silikon yang tak berdaya. Karina sang sosok malaikat yang baik hati. Dan. Serena sang sosok iblis yang berdarah dingin. .
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • My Ice Prince
  • Fajar & Senja
  • C L O S E R . [REVISI]
  • KEPERGIAN SENJA
  • KEYLASYA STORY
  • Amor Almira
  • Transmigrasi Karina
  • Athalaqila [ SLOW UPDATE ]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines