MELEPAS RINAI

MELEPAS RINAI

  • WpView
    Reads 167
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Sep 19, 2017
Lembayung merona di langit senja. Debur ombak menyapu bibir pantai. Embusan bayu menerpa wajah yang gelisah. Kutatap lagi lelaki gagah itu. "Aku pamit ya?" Sekuat hati kutahan air yang menggenang di pelupuk mata. Dia mengembuskan napas dengan kasar. Balas menatap wajahku. Aku mengalihkan pandangan ke angkasa, menatap burung yang terbang beriringan. "Kalau aku tak mengizinkan, apakah kamu akan tetap pergi?" Tanyanya lirih. "Aku harus tetap pergi Lang," ujarku lemah. Aku melempar senyum, sesak menyeruak dada. Mata mulai mengabut. "Aku pergi Lang...."aku pamit sekali lagi. Melangkah gontai meninggalkan dia yang masih terpaku. Kutahu dia masih di sana. Aku membalikkan badan, memandang sendu wajah di bawah semesta yang kian temaram. Indah...dia begitu indah. Namun keindahan itu bagai senja, sesaat... kemudian hilang bersama kelam. Manakala malam datang meminang rembulan. Aku tak mengerti, kalau hati cuma satu kenapa rasa bisa mendua.
All Rights Reserved
#13
siri
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tolong, Aku Masih di Sini
  • Langkah (By Auzizahirah)
  • Awan Abu-Abu [END]
  • Dibawah Bintang (TAMAT)
  • The Fate Of My Life (END)
  • Asa | Lengkap ✓
  • Lonely Tomorrow
  • Tentang Pemimpi (Kisah Meraih Beasiswa LPDP)
  • "ARGON" Untukmu Bidadari Hatiku
  • DI BALIK SENYUM MU ( Ginting )

Mereka bilang, jangan pernah main ke hutan itu saat matahari mulai turun. Bukan karena hewan buas. Bukan juga karena tersesat. Tapi karena... tak semua yang berdiam di sana adalah manusia. Di balik pepohonan yang menjulang dan semak berduri, ada satu rumah kosong. Sudah lama tak ditinggali, katanya. Tapi kadang- lampunya menyala. Tirai bergerak. Dan suara tawa terdengar di malam hari. Warga desa memilih bungkam. Anak-anak yang bertanya dibungkam dengan dongeng-dongeng: "Rumah itu milik orang kaya yang pindah ke luar negeri." "Sudah tak ada apa-apa di sana." "Jangan percaya cerita aneh-aneh." Tapi wajah mereka selalu tegang saat menyebutnya. Dan tak ada satu pun yang berani menjejakkan kaki ke tanah itu. Sampai akhirnya, pada suatu sore, Tujuh anak muda tertawa di antara rerimbun hutan, memainkan petak umpet tanpa tahu batas. Langit mulai redup. Angin berubah dingin. Dan salah satu dari mereka... menghilang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines