I STILL HEART YOU (STILL)

I STILL HEART YOU (STILL)

  • WpView
    Reads 61,535
  • WpVote
    Votes 4,341
  • WpPart
    Parts 44
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 25, 2019
(SUDAH TERBIT DAN TERSEDIA DI TOKO BUKU) Bagaimana rasanya ketika kamu menunggu dan berjuang untuk menggapai mimpimu, kemudian karena satu kesialan mimpi yang sudah kamu gapai dengan susah payah kandas seketika? Terlebih jika perjalanan kamu meraih mimpi itu tinggal selangkah lagi? Pasti kamu kesel banget dan dendam kesumat sama si biang kerok. Tapi kamu juga nggak bisa melakukan apa-apa karena sebuah tanggung jawab. "Huh! Liat aja, pokoknya gue akan kasih lo pelajaran biar kita impas! Emang dikira gue nggak lebih rugi apa daripada lo!" - Lily "Enak aja lo mau melarikan diri. Ini kan salah lo, wajar lah kalau lo harus tanggung jawab!" - Devon
All Rights Reserved
#310
office
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kopi & Deadline (On Going)
  • SENIOR
  • (Un) finished Business - END
  • Love in Difference
  • Perfect Two✔
  • My Beloved Staff (SELESAI)
  •  My Mysterious Boss Is My Love At The First Sight
  • Titik Nadir
  • KIRANA ANAK MAGANG | TAMAT ✔
  • unpredictable Love

Bukan karena lambat bekerja, Ara lembur lagi bagai kuda. Ara duduk sendiri di cubicle, mata lelah, kopi sachet ketiga di tangan, layar laptop menyala dengan file yang hampir rampung. Ingatkan Ara sekali lagi bahwa kerjaannya 'hampir rampung'. Dia menatap layar, lalu menarik napas panjang, "Aku nggak tahu lagi ini kerjaan atau penyiksaan... Tapi besok pagi harus submit, kalau nggak... ya biasa, dapat teror halus dari atasan." Dulu waktu kecil, Ara selalu mengganggap orang yang pulang kantor sampai pukul 12 malam atau pagi buta adalah orang-orang keren. Iya keren, keren keramnya sebadan-badan. Ara menarik napas panjang untuk kesekian kalinya, "Aku gila deh kayaknya, masa dulu kerjaan kayak ginian aku bilang keren." Di sela kelelahan itu, Ara mengenang tempat ngopi yang pernah dia datangi dua minggu lalu-tempat yang jarang dia datangi sebelumnya, tapi entah kenapa, wajah sang barista masih lekat di kepalanya. Dia pernah bilang ke dirinya sendiri , "Aku nggak punya waktu buat cinta." Tapi sejak ketemu cowok itu... apa kalimat yang digaung-gaungkan Ara mulai retak? GA MENERIMA NAMANYA PENJIPLAKAN YA EGE, NYARI IDE ITU GA MUDAH‼️

More details
WpActionLinkContent Guidelines