TINKERBELL

TINKERBELL

  • WpView
    Reads 868
  • WpVote
    Votes 43
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Dec 19, 2019
"Nama gue Abella Marissa Aryana." Lelaki itu mengerutkan kening seperti sedang memikirkan sesuatu seraya mengusap rahang. "Hm. Gimana kalau gue panggil Abel?" "Aduh, tolong ya, orang tua gue capek-capek mutar otak membuatkan gue nama yang bagus. Giliran udah dapat, orang lain malah memanggil gue Abel? Nama macam apa itu?" Abella menautkan kedua alisnya. "Selera nama lo rendah banget kayaknya, ya. Nama Abel itu bagus. Biasanya selalu digambarkan dengan sosok perempuan yang manis-imut-lugu begitu. Tapi yah, sayangnya itu bukan lo banget." "Kenapa harus Abel?" Lelaki itu menaikkan sebelah alis tanda bertanya. "Padahal kebanyakan orang memanggil gue Bella." "Abel itu nama lo." "Memang." Bella membenarkan. "Tapi, kenapa harus Abel?" Gadis itu bertanya ulang. "Simple, " ucap lelaki itu menatap tepat pada iris mata Bella. "Karena gue nggak mau seperti kebanyakan orang bagi lo." Jawab Faris mantap lalu meneruskan. "Cuma merekalah yang nggak seperti kebanyakan orang yang biasanya selalu dikenang. Dan gue mau gue selalu diingat dan dikenang dalam memori lo."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Misi Kalisa (End)
  • Crazy Student and Bad Teacher
  • ALSTARAN [END]
  • VAGALDARA [TERBIT]
  • LOVE STORY QIANARRA
  • Strong Girl Michella (END)
  • MY M3SUMM Boyfriend (COMPLETE)
  • Fake Nerd Girl [END]
  • Albel
  • RadenRatih

"Ngapain lo!" Suara seseorang menyadarkanku, membuatku berbalik lalu menatapnya intens. Cowok belagu lagi. "Menurut lo, gue ngapain disini?" Ucapku setelah satu detik mencoba setenang mungkin. Dia menatap langit langit perpustakaan. Lalu menatapku kembali. "Lo ngadem kan," ucapnya dingin. Dia bukan bertanya, lebih tepatnya nuduh. "Sotoy banget lo!" Ucapku ketus tapi masih kategori pelan. "Aneh aja. Cewek kaya lo meluangkan waktu di perpus, apalagi sekarang nyari buku di rak matematika," ucapnya datar. "Emang kenapa?" Sahutku mulai kebawa emosi. Dia tersenyum miring. "Nggak pantes!" Ucapnya sambil mengeja. Lalu meninggalkanku dengan tersenyum devil. "Kenzo," panggilku berhasil membuatnya menoleh. Risih banget pertama kali manggil namanya. "Keren doang ya muka lo, tapi mulut lo busuk!" Mampus lo! Sakit hati sakit hati lo. Bodo amat dah. "Jadi gue keren?" "What?" Aku shock mendengarnya. "Thanks ya," ucapnya tersenyum sekilas sebelum benar benar meninggalkanku.

More details
WpActionLinkContent Guidelines