Like A Shooting Star

Like A Shooting Star

  • WpView
    LECTURAS 36
  • WpVote
    Votos 3
  • WpPart
    Partes 2
WpMetadataReadContenido adultoContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación lun, abr 20, 2020
WpInfo
Ficción
Romance
Awalnya Rainna hanya tertarik menatap lelaki itu, tanpa disadari dia mulai menyukainya, seorang barista di sebuah Coffee shop, seorang lelaki dengan sejuta pesona dan hal misterius yang melingkupi dirinya, kini dia telah menemukan seseorang yang telah mencuri hatinya, dan berusaha menggapai bintangnya, ya lelaki itu telah menjadi bintang yang Rainna cari selama ini. "Tidak bisakah sedikit saja kau menyukaiku? Hanya sedikit, itu sudah cukup untukku." ~Rainna Caramelia~ "Aku menyukaimu, kau tau itu, hanya saja aku tak bisa mengungkapkannya" ~Arjuna el Xavier~ Akankah Rainna terus berjuang untuk dapat menggengam bintangnya? Atau dia malah menyerah?
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Kopi & Deadline (On Going)
  • Dialog Dari Ranum
  • Cerita Tentang Langit Malam
  • Gue, Matcha dan si Mantan Stalker
  • YOU'RE MINE | END
  • A Cup Of Coffee (Done)
  • Perfect uncle ✓
  • Perihal Hati
  • Arsyilazka

Bukan karena lambat bekerja, Ara lembur lagi bagai kuda. Ara duduk sendiri di cubicle, mata lelah, kopi sachet ketiga di tangan, layar laptop menyala dengan file yang hampir rampung. Ingatkan Ara sekali lagi bahwa kerjaannya 'hampir rampung'. Dia menatap layar, lalu menarik napas panjang, "Aku nggak tahu lagi ini kerjaan atau penyiksaan... Tapi besok pagi harus submit, kalau nggak... ya biasa, dapat teror halus dari atasan." Dulu waktu kecil, Ara selalu mengganggap orang yang pulang kantor sampai pukul 12 malam atau pagi buta adalah orang-orang keren. Iya keren, keren keramnya sebadan-badan. Ara menarik napas panjang untuk kesekian kalinya, "Aku gila deh kayaknya, masa dulu kerjaan kayak ginian aku bilang keren." Di sela kelelahan itu, Ara mengenang tempat ngopi yang pernah dia datangi dua minggu lalu-tempat yang jarang dia datangi sebelumnya, tapi entah kenapa, wajah sang barista masih lekat di kepalanya. Dia pernah bilang ke dirinya sendiri , "Aku nggak punya waktu buat cinta." Tapi sejak ketemu cowok itu... apa kalimat yang digaung-gaungkan Ara mulai retak? GA MENERIMA NAMANYA PENJIPLAKAN YA EGE, NYARI IDE ITU GA MUDAH‼️

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido