"BIANCANDRA"

"BIANCANDRA"

  • WpView
    Reads 16,994
  • WpVote
    Votes 1,112
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadComplete Sat, Dec 23, 2017
WpInfo
Fanfic
Memiliki perasaan yang salah kepada seseorang yang dia cintai. Merasa kalau perasaan yang ia rasakan adalah bukan perasaan yang seharusnya, "Bianca Marselly". Dalam diam ia juga sangat mencintai Bianca, tetapi ia takut. Takut kalau ia mengutarakannya itu semua akan mengubah segalanya, mengubah persahabatan yang sudah lama terjalin dengan Bianca, "Candra Prasetya" "Ini hanya masalah waktu,. "janji Candra saat itu. "Tapi ada diantara kamu dan dia adalah hal terbodoh yang pernah aku lakukan,. "Jawabnya menahan sesak. apalah arti mengucap janji bila cinta tak pasti untukku warnai hari, jalani kisah walau ku tahu kau telah bersamanya salahkah ku mencintaimu meski ku tahu takkan selamanya memilikimu bersamamu tanpa ada air mata ku tetap tegar melawan salah jalani cerita yang bukan untukku kau kan selalu ku puja dan kan selalu ku puja ku tetap bahagia walau sebagai kekasih kedua jalani cerita yang bukan untukku ku tetap bahagia walau sebagai kekasih kedua
All Rights Reserved
#882
fallinginlove
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Elegi Rasa : Pergi
  • HALOALKANA
  • Ex-boyfriend
  • REGRET
  • Last Love
  • Behind Bullying [END]
  • Bukti [COMPLETED]
  • ARDILA & DINAR
  • Something Between Us

Kadang menjadi begitu terlambat menyadari sesuatu akan membekaskan rasa sakit yang tak lekang oleh waktu. Saat cerita yang kelewat singkat dilalui menghantarkan pada sakit yang menghantui. Safir sudah merasakannya. Dua kali dalam hidup ia seperti dipermainkan rasa. Nila yang tak mau melihat. Dan Bianca yang pergi pada sesuatu yang tak terlihat. Ketika sepi melanda. Bukannya pada dunia yang luas, hanya pada dunianya sendiri yang tiba-tiba runtuh. Safir merasa begitu buruk di mata Bianca. Merasa begitu lelah di hadapan Nila. Dan malam itu, harusnya ia berusaha lebih keras. Saat si gadis berkata, "Aku pamit pulang, ya." Harusnya Safir membujuk lebih tegas. "Biar aku yang antar." Kenyataannya, Safir menjadi begitu terlambat. Saat rasa itu mulai tertambat. Hatinya justru sakit tanpa ada yang membebat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines