SEGORES SINAR PARAS PURNAMA

SEGORES SINAR PARAS PURNAMA

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Wed, Apr 26, 2017
"Syukurlah aku membeli benda ini. Ternyata setiap benda atau hal apapun memiliki kegunaan dan manfaat tersendiri, maka sebab itu ia diciptakan. Kita hanya perlu menyadari dan tidak menyiakannya." Ujar Adam sambil tersenyum simpul menatap benda di tangannya itu. Lalu ia menaruhnya ke dalam saku celana, sebagaimana awalnya. Kemudian bergegas mengayunkan kakinya meninggalkan jejaknya di tanah itu dan melanjutkan pendakian bersama teman-temannya. . . . Mungkin kita sering kali mengabaikan serta menyepelekan benda pun hal-hal kecil yang bertebaran di dekat kita. Yang berlabel milik kita. Namun, kita berpikir mereka tak berguna. . . . Rangkaian imaji tersebut, aku mengemasnya menjadi sebuah cerpen.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jovanka dan Abang Kembar
  • Without Love?
  • Setangkai Aster untuk Esther
  • Cinta Tapi Cinta?
  • Ceo kesayangan anak brutal
  • Sweet Home || HoonSuk
  • Bunuh Saja Aku Tuhan
  • Siapa Kau, Mama? - 𝐍𝐚𝐡𝐲𝐮𝐜𝐤
  • Aku Takut Tuhan Cemburu | Kumpulan Cerpen ✨

Hendra dan Narendra Dewantara terlahir dengan beban yang tak mereka mengerti. Sejak kecil, mereka harus mendengar bisikan-bisikan bahwa mereka adalah anak pembawa sial. Namun, di balik semua itu, mereka masih memiliki kasih sayang dari kedua orang tua mereka-setidaknya hingga bayi kecil itu lahir. Jovanka, adik bungsu mereka, hadir ke dunia dengan membawa perubahan besar. Kehadirannya mengubah segalanya. Orang tua mereka, Dewantara dan Cinthya, yang dulu begitu menyayangi mereka, perlahan menjauh. Semua perhatian, semua kasih sayang, semua harapan yang dulu diberikan untuk mereka, kini hanya tertuju pada satu sosok-Jovanka. Hendra dan Narendra tumbuh dengan kebencian yang tak mereka pahami. Bagi mereka, Jovanka adalah alasan mereka kehilangan orang tua. Bayi mungil itu adalah penyebab semua kehancuran. Maka, tanpa sadar, mereka ikut menjauh. Mereka membiarkan adik mereka tumbuh sendirian dalam dingin, tanpa pelukan hangat seorang kakak. Namun, waktu mengajarkan mereka banyak hal. Perlahan, kebenaran terungkap. Luka yang selama ini mereka kira milik mereka saja, ternyata juga terukir dalam diri Jovanka. Dan saat mereka menyadari itu, sudah terlambat. Adik mereka telah berjalan terlalu jauh dalam gelap, terjebak dalam luka yang tak pernah mereka lihat. Kini, di antara penyesalan dan keinginan untuk menebus segalanya, Hendra dan Narendra berjanji. Mereka tidak akan membiarkan Jovanka menghadapi semuanya sendirian lagi. Tidak peduli berapa banyak duri yang harus mereka lalui, tidak peduli seberapa terlambat mereka menyadarinya-mereka akan memastikan adik mereka tidak lagi merasa sendirian. Namun, apakah cinta dan penyesalan cukup untuk menyembuhkan luka yang telah terukir begitu dalam? Ataukah semua ini sudah terlambat? Karena tak peduli seberapa besar keinginan mereka untuk melindungi, pada akhirnya hanya ada satu pertanyaan yang harus dijawab: apakah seorang pangeran yang telah kehilangan mahkotanya masih bisa menemukan rumahnya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines