ANTARA MASA LALU DAN MASA DEPAN

ANTARA MASA LALU DAN MASA DEPAN

  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Apr 25, 2017
Hari pertama memasuki jenjang pendidikan Perguruan Tinggi, aku berharap bisa memulai kehidupan baruku tanpa melihat masa lalu. Masa lalu yang sukses membuat hidupku hancur berantakan. Membuat aku sempat merasakan kehilangan yang teramat dalam dan membuat luka dihati ini. Aku putuskan untuk mencoba bangkit kembali setelah 3 tahun terpuruk dalam Black Hole. Aku mencoba untuk membuka hati untuk orang lain, dan ternyata hatiku terbuka untuk Dimas. Setelah cukup lama dekat dengan Dimas dan merasa yakin bahwa aku telah merasakan kembali indahnya jatuh cinta, tiba-tiba masa laluku datang kembali dikehidupanku yang sekarang. Datang kembali seolah tak ada hal apapun yang terjadi dimasa lalu kami. Akankah aku kembali lagi pada masa laluku, ataukah aku harus memutuskan untuk membuang jauh-jauh kenangan masa laluku dan menggantinya dengan masa depanku? Tapi bagaimana jika takdir berkata lain? Apa yang harus aku lakukan?
All Rights Reserved
#364
remember
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hopeless
  • Sejenak Luka
  • 3 Dimensi
  • Cinta KenRi
  • A Fractured Soul
  • Satu Senja Terlambat
  • You Are Mine [Terbit]
  • Perihal Waktu [ REVISI ]
  • Remember?
  • Waktu?
Hopeless

[COMPLETED] "Whoever told you that life would be easy, I promise that person was lying to you." --Kondisi dimana tidak memiliki ekspetasi tentang hal-hal baik yang akan terjadi dan juga kesuksesan di masa mendatang. [Definition of Hopeless] Apakah ini tentang kisah cinta masa remajaku? Astaga, bahkan aku tidak yakin tentang cinta itu nyata. Yang aku tahu hanya luka dan luka. Itu saja. Tangisanku bukan tangisan patah hati, lagipula perasaanku sudah mati. Jiwaku diasuh oleh sepi, hingga teman terbaikku hanya rasa sendiri. Setidaknya aku punya mereka, orang yang mengajariku bahwa aku tidak sendirian. Meskipun ada kalanya aku menyerah dan pasrah. Apakah akhir ceritaku ini bahagia? Apakah aku akan terus berkawan dengan tangisan, hingga aku lupa cara untuk mencari kebahagiaan? Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang sakit secara jiwa, aku bersahabat dengan sesuatu yang mereka sebut depresi. Hingga yang kukenali hanya keputusasaan pada masa depan diri sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines