Landau Badai

Landau Badai

  • WpView
    Reads 349
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 25
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Mar 27, 2020
WpInfo
Non-Fiction
Tulisan ini bercerita secara khusus mengenai satu desa yang menjadi lokasi penempatan Indonesia Mengajar (IM). Dimana desa tersebut telah didatangi oleh lima Pengajar Muda, sebutan untuk relawan IM di suatu desa, dan menjadi akhir dari masa pengiriman Pengajar Muda di desa tersebut. Dituturkan oleh Pengajar Muda terakhir, kisah ini diawali dari refleksinya mengenai Indonesia Mengajar dan definisi Pengajar Muda itu sendiri. Dilengkapi dengan pengalamannya saat melalui seleksi dari pendaftaran hingga pelatihan. Bercerita mengenai lima tahun Pengajar Muda, kisah ini merangkum banyak catatan dan karya dari Pengajar Muda sebelumnya. Diantaranya adalah catatan Pengajar Muda pertama dalam buku Indonesia Mengajar dan tayangan Lentera Indonesia yang telah menceritakan mengenai Landau Badai secara visual. Meski sudut pandang dalam kisah ini adalah orang pertama, yaitu Pengajar Muda itu sendiri, namun banyak pula diceritakan mengenai sosok warga Landau Badai yang inspiratif, seperti Kepala Sekolah yang mengabdi dari luar Landau Badai, guru muda yang bermental tangguh, hingga kecerdasan murid-murid yang mampu bersaing di Kota. Budaya di Landau Badai menjadi salah satu hal menarik yang dibahas dalam buku ini. Tradisi tepung tawar sebagai acara sambutan pada pendatang baru. Nugal yang dilaksanakan di masa tanam padi. Nuba, tradisi menguras sungai, yang hanya terjadi beberapa tahun sekali saat air benar-benar surut. Berwah sebagai penghormatan kepada arwah dari orang yang sudah meninggal. Dan, tari-tarian yang populer di Landau Badai. Di akhir cerita, penulis menceritakan mengenai refleksi yang dia jalani dari Indonesia Mengajar, hingga gegar budaya yang dia rasakan saat kembali beraktivitas di tanah kelahirannya. Kembali ke perkotaan dengan kondisi perpecahan di ibukota membuatnya berpikir, jika kebaikan itu menular, maka juga menular. Jika kita sudah terbiasa dengan hal-hal yang baik, maka saatnya kita menjadi penular-penular hal yang baik.
All Rights Reserved
#70
borneo
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • RIMBA MERUN
  • Take A Chance With Me (Mas in the Cabinet Secretary Version)
  • Kamu dan Negara S2 [SELESAI]
  • Kamu dan Negara S1 [SELESAI]
  • Warisan Gandari
  • Nostagia dalam perjalanan  (TAHAP REVISI)
  • Avontur
  • (Bukan) Ke Lain Hati ~ (TAMAT) ~ TERBIT E-BOOK

Di Rimba Merun, kami belajar di sebuah sekolah kecil yang nyaris tak pantas disebut sekolah. Atapnya bocor. Dindingnya reyot. Buku-bukunya lebih tua daripada sebagian guru kami. Tetapi dari tempat itulah kami mengenal dunia-aku, Elang yang terlalu pintar, Badar yang hampir selalu mendapat nilai nol tetapi mampu membaca sungai seperti buku, Lee, Boih, Munisa, Seruni, dan anak-anak lain yang percaya bahwa kehidupan tak mungkin lebih rumit daripada ujian Matematika. Kami keliru. Hari-hari kami sebelumnya hanya dipenuhi perkara-perkara penting: menangkap ikan di Way Semah, melempar batu sampai dua puluh pantulan, berlari tanpa alas kaki, menghindari hukuman guru, dan mempertaruhkan harga diri dalam perlombaan-perlombaan yang hadiahnya bahkan tidak ada. Sampai suatu hari, orang-orang asing datang ke Rimba Merun. Mereka membawa peta tanah. Lalu menancapkan patok-patok ke tanah yang sejak lahir kami anggap milik kami. Awalnya kami tidak peduli. Orang dewasa selalu mempunyai urusan aneh yang tidak menarik bagi anak-anak. Namun patok-patok itu semakin banyak. Hutan mulai ditandai. Tanah mulai diukur. Orang-orang Dusun mulai berbisik. Dan suatu hari kami menyadari sesuatu. Garis patok itu menuju sekolah kami. Saat itulah permainan berakhir. Kami hanyalah anak-anak dusun. Kami tidak mempunyai uang, kekuasaan, ataupun orang penting yang bisa dimintai pertolongan. Yang kami punya hanyalah sebuah sekolah reyot, persahabatan, beberapa sepeda tua, keberanian yang kadang muncul pada saat yang salah-dan Elang, yang mulai mencurigai bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi di Rimba Merun. Kami belum tahu bahwa usaha mempertahankan sekolah kecil itu kelak akan membawa kami berhadapan dengan orang-orang yang bahkan orang dewasa takut menyebut namanya. Dan kami sama sekali belum tahu bahwa suatu hari nanti, sebuah kata akan dituduhkan kepada kami. MAKAR. Padahal waktu itu, kami bahkan masih kesulitan memahami perkalian tujuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines