Story cover for DISAPPOINTED by Berylaxellin
DISAPPOINTED
  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
Ongoing, First published Apr 26, 2017
Mature
"Cinta itu indah, Jika bagimu tidak mungkin kamu salah memilih pasangan"


Mungkin ungkapan tersebut pantas bagi Raya (19thn). Manakala hidupnya yang tentram menjadi pisau bermata dua. Kekasih yang selama 2 tahun menemani hidupnya pergi meninggalkannya tanpa sebab.

Ditambah keluarganya tiba-tiba bangkrut, semakin menambah beban hidup soraya. Mulai dari situ Soraya sadar bahwa hidup tidak semudah membalik telapak tangan dan dia akan memulai lgi dri awal.

Menjadi pribadi yang dingin dan tertutup. tanpa ada senyum,canda dan tawa. Hingga ia datang, merubah segalanya.
All Rights Reserved
Table of contents
Sign up to add DISAPPOINTED to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 8
Di Antara Akar dan Langit cover
Mr. Right For Now cover
Mungkin Suatu Hari Nanti cover
CARAKU MENINGGALKANMU cover
DEPRESSION (눈물병) - EXO [finished] cover
Limerence cover
AURELLIE cover
LOVE FOR MY LOVE cover

Di Antara Akar dan Langit

8 parts Ongoing

Langit sore menggantung rendah di atas kampus yang tak lagi riuh oleh tawa mahasiswa. Hanya angin yang menyelinap diam-diam, menyapu dedaunan yang gugur terlalu dini. Di bawah pohon trembesi tua, Ikhram berdiri. Tegak, namun goyah. Matanya menatap cakrawala yang seolah sedang menunggu jawab. Sinta tak jauh darinya, namun dunia seakan telah menarik jarak tak kasatmata di antara mereka. Ia menggenggam berkas laporan yang pernah mereka tulis bersama. Tangan kecilnya gemetar, bukan karena dingin, tapi oleh beban kalimat terakhir yang belum sempat terucap. "Apa arti mencintai jika langkah kita saling bertentangan?" Ikhram tak menjawab. Langit sore memudar menjadi kelabu. Seperti hati mereka yang ragu: apakah cinta bisa tumbuh di antara kemarahan pada dunia? Mereka pernah seirama: pada slogan-slogan perubahan, pada malam-malam panjang di sekretariat, pada luka-luka yang disembunyikan di balik semangat. Namun kini, mereka berdiri di persimpangan dua jalan yang tak lagi sejajar. "Kau memilih diplomasi," bisik Ikhram, "sementara aku memilih api." "Dan mungkin keduanya akan gagal," jawab Sinta, nyaris seperti doa. Di sela desah angin dan detak jam kota, mereka melepaskan satu sama lain-tanpa janji, tanpa kepastian akan bertemu lagi. Hanya diam, dan senyum yang tak sempat penuh. Satu daun jatuh di antara mereka. Dan cinta pun menggantung, seperti langit yang belum selesai mencatat akhir cerita.