The Light

The Light

  • WpView
    Reads 162
  • WpVote
    Votes 37
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 29, 2017
Fadillatama Kamilnizar Aku berjalan dalam kegelapan. Kemanakah tujuanku sebenarnya? Aku tidak bisa melihat apa-apa dalam kegelapan seperti ini. Apakah aku akan terus terjebak dalam kegelapan ini? Tapi tiba-tiba aku melihat sebuah cahaya. Cahaya kecil memang. Apakah aku harus berjalan menuju arah cahaya itu? Atau Aku harus tetap berjalan mengikuti kegelapan ini? --- Lighta Grace Aku bersyukur dengan keadaan hidupku. Aku bisa merasakan indahnya persahabatan dan dicintai oleh seseorang. Walaupun kadang flat, tapi tetap kujalani. Aku memang hanya seorang manusia, yang kadang tak pernah merasa puas pada keadaan. Oleh karena itu, saat aku melihatnya entah kenapa aku ingin tahu lebih tentang dirinya. Apakah tindakan ku ini salah? --- Bagaimana jika kedua orang itu disatukan oleh keadaan? Akan kah hidup mereka tetap seperti itu? Atau bahkan bisa mengubah jalan hidup mereka, entah menjadi lebih baik atau malah menjadi lebih buruk.
All Rights Reserved
#118
memory
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • [End] Behind The Heart
  • || I'm NOT Her || End βœ”
  • Boomerang ( Completed )
  • Jejak Waktu [Complete]
  • Don't leave me [SELESAI]
  • Stereotype; Soobin
  • Stres In Life
  • 5 Years Later
  • The Fault
  • ADEEVA

[Romance] Follow dulu, baru dibaca. Avram Gian Pradipto -Dokter dengan tingkat kegagalan operasi 0%- Wanita itu melihatku tajam. Tanpa rasa terkejut, maupun cemas. Sebaliknya, ia balik tersenyum dan menunjukkan raut lega. Lalu pelan, bibirnya mulai berucap, "Tidak, terima kasih. Tapi, aku tidak ingin sembuh. Jadi, dok ... biarkan aku tetap sakit dan meninggal pada akhirnya." Galiya Mira Tabitha -Pasien dengan tingkat keinginan mati 100%- Pria itu melihatku bingung. Penuh rasa khawatir dan takut. Ia bertindak seakan dirinya adalah pasien dan aku sebagai dokternya. Lalu cepat, suaranya mulai kembali terdengar, "Saya tidak mengerti. Kenapa ... kenapa kamu bisa memiliki pikiran seperti itu? Kematian bukan sesuatu yang mudah. Dan saya ... saya tidak akan membiarkan kamu untuk meninggal. Tidak akan pernah." Bagaimana jadinya, jika seorang dokter yang selalu ingin menyelamatkan nyawa seseorang, bertemu dengan pasien yang tidak ingin diselamatkan? Akankah tercipta sebuah pengertian? Atau justru membentuk sebuah akhir menyedihkan?

More details
WpActionLinkContent Guidelines