RENJANA
  • WpView
    Reads 143
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, May 2, 2017
Bagaimana mungkin seorang perempuan yang berusaha mati-matian menghapus masa lalunya, melewati titik batas suka dukanya, setelah sebelumnya merobek tenunan kisah kehidupannya lalu membakar benang-benang yang menghubungkan dengan lelaki yang dicintainya, kini justru bersusah payah menenun kembali kisah yang telah lama ingin dihapuskannya dengan berbagai cara dan berbagai usaha, meski raga lelaki yang dicintainya sudah tidak bersemayam di dunia. Bagaimana mungkin perempuan itu rela mengumpulkan butiran-butiran air matanya untuk dirangkai menjadi sebuah deret kenangan yang selalu dia kenangkan setiap malam, setiap matanya tertutup maupun terbuka hingga membentuk untaian kisah di memorinya. Bagaimana mungkin sebuah gelas yang telah jatuh pecah, akan kembali utuh tanpa adanya keretakan di sekujur tubuhnya. Bagaimana mungkin. --- Kumpulan Cerita Perempuan yang Terjebak Hujan dan Kenangan---
All Rights Reserved
#221
perempuan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sudah September
  • Putri Hutan Pinus
  • Jingga dan Senja [SUDAH TERBIT]
  • SELANG (Senja dan Langit) [TAMAT]
  • Senja dan Langitnya
  • BUNGA KEMBALI
  • Langit.
  • Let You Go
  • Mencintaimu Dari Ujung Senja
  • JINGGANYA SENJA (Lengkap)

Rian berlari sekencang hatinya yang mulai hancur kearah gadis itu, menariknya agar berhenti menangis. Disana diterpaan air mata para dewa, yang tengah deras-derasnya mengguncang kota sejarah berumur ratusan tahun itu. Rian menarik Linda, menahan perempuan malang itu untuk tidak lagi pergi darinya. Linda menangis sesenggukan, air matanya tak mampu terlihat oleh sekilas pandang, sebab hujan membasuh peluh gadis itu, menyekanya secara cuma-cuma agar gadis itu bisa tenang. Menikmati patah hatinya. Rian datang menggenggam pergelangan tangan Linda, mencengkramnya erat-erat agar tangan itu tidak kembali menjauh. "Aku minta maaf, maaf udah ngelanggar janji aku ke kamu!" Katanya dengan suara kencang, mencoba lebih keras dari suara hujan yang bising mengusik telinga. Linda mengusap matanya dengan lengan kiri, gadis itu justru kembali kian terisak dalam tangisnya yang semakin perih.

More details
WpActionLinkContent Guidelines