Catatan Seorang Taruna

Catatan Seorang Taruna

  • WpView
    مقروء 10,107
  • WpVote
    صوت 273
  • WpPart
    فصول 4
WpMetadataReadمستمرّة
WpMetadataNoticeآخر تحديث: سبت, أغسـ ١٩, ٢٠١٧
2013, Rian Saputra yang biasa dipanggil Ian baru saja lulus dari SMA. Ian mempunyai kemampuan akademis yang cukup baik di sekolahnya hingga selalu membuatnya menjadi juara dalam setiap kompetisi yang diikutinya. Selalu mendapat juara seakan membuatnya tak pernah gagal hingga suatu ketika hal pahit itu ia rasakan ketika harus mengurungkan niatnya menjadi seorang polisi karena gagal dalam tes tahap akhir. Setelah kegagalan besarnya Ian memilih melanjutkan studinya di sebuah universitas negeri di Makassar dan membuatnya betemu dengan seorang mahasiswi cantik bernama Afifah yang mempunyai kulit kuning langsat dan mata indah . Namun setelah menjalani kehidupan perkuliahan Ian harus berhenti karena semangat kuliahnya yang menurun apalagi sering diajak berdemo yang berakhir seperti sebuah perang bagi Ian. Ian berdiri menatap sebuah lapangan besar yang dipenuhi oleh orang-orang tanpa rambut dikepalanya. Ian kebingungan dan terus bertanya dimana ia berada. Tubuhnya sangat lelah dan sangat ingin beristirahat. Tiba-tiba ia terkejut seperti baru saja di lempar dari sebuah gedung tinggi ketika ia dikagetkan oleh seseorang yang berbaju loreng. "Woy jangan melamun!" Teriak seseorang dengan baju loreng. Dia masih belum sadar hingga sampai akhirnya dia dipaksa untuk berguling-guling membuatnya mengingat semuanya bahwa dia sedang mengikuti pendidikan dasar setelah dia mendaftarkan diri beberapa bulan lalu ketika meninggalkan kampus lamanya untuk menjadi seorang Taruna Penerbangan. Suatu hari ketika Ian sedang melaksakan praktek di luar kota Ian bertemu dengan seorang wanita berjilbab bernama Mira. Hari berlalu baru sehari tetapi Rian telah menyimpan hati kepada Mira dan sepertinya Mira pun demikian namun tiba-tiba Ian merasa dilema karena mendapati mantannya Afifah sedang berkunjung ke kosnya. Ian merasakan tetes keringat jatuh mengenai telinganya dan tiba-tiba Afifah menghilang ketika handphonenya berdering membangunkannya dari tidur siangnya.
جميع الحقوق محفوظة
#89
taruna
WpChevronRight
انضم إلى أكبر مجتمع لرواية القصص في العالماحصل على توصيات قصص مخصّصة، احفظ قصصك المفضلة في مكتبتك، وقم بالتعليق والتصويت لتنمية مجتمعك.
رسم توضيحيّ

قد تعجبك أيضاً

  • Don't Talk About Money
  • Bucin Ala Al [END]
  • SOCCER LOVE (TAMAT)
  • Masa SMK ✅
  • Hema Alkaris (and his life)
  • Love Letters [END]
  • Rembulan Laut [TERBIT]
  • Imaginary Boyfriend
  • JALAN TANPA PETA

Pernah ga sih? Kalian sekelas sama anak beasiswa yang ganteng banget, pinter banget, tapi juga sombong banget. Padahal dia tuh miskin banget :( Bukannya Irin judging nih, tapi pernah sekali waktu dia sekelompok sama Tama dan maksa buat kerkel di rumahnya untuk tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia, dan Irin baru tahu, ternyata di Jakarta masih ada ya rumah yang base nya dari kayu tanpa di semen. Letaknya dalam gang kumuh yang bau sampahnya kemana-mana. Tapi jujurly, kalian ga bakal lihat Tama seperti lingkungannya itu, walau dia juga ikut milah sampah yang bisa di daur ulang atau bisa dijual lagi sama bapaknya, semua hal ini yang mendukung Tama mendapat beasiswa untuk berkuliah di universitas terbaik, di tempat yang sama dengan Irin, lewat jalur surat keterangan tidak mampu. Tapi Irin sangat kagum sama Tama, bukan karena wajahnya aja yang tampan, walau hidup Tama terlihat jauh lebih susah dari Irin yang turun naik Jazz ke kampus, Tama ga pernah sekalipun terlihat mengeluh, ga kaya Irin yang perasaan hidupnya ngeluh mulu, malah pinter juga masih pinteran Tama, makanya Irin suka sama Tama, kalo kata Irin sih suka aja, ga yang gimana-gimana, tapi Irin tuh jadi suka ngintilin Tama, minta sekelompok sama Tama, minta diajarin Tama, mau makan bareng Tama atau bawain bahkan beliin Tama makanan, nawarin Tama balik bareng, mau main ke rumah Tama, sampai Tama tuh jengah, dan dari situ Irin menyimpulkan Tama sombong berikut berpemikiran sempit. "Kamu bisa ga? Ga usah dekat-dekat dengan saya? Saya ga butuh belas kasihan kamu, Irin. Jangan bawain saya makanan lagi, ga perlu tawarin saya pulang bareng kamu karena saya bisa sendiri. Jangan masuk ke dunia saya karena kamu tidak cocok. Kamu tidak perlu menempatkan diri sebagai saya karena kamu tidak tahu bagaimana kehidupan saya berjalan. Tapi di luar semua itu, saya bisa menjalankan hidup saya sendiri, tanpa bantuan kamu" Tapi, prinsip Irin tetap satu sejak awal. "Kamu lihat aja, kamu bakal balik dan ngemis cinta sama aku!"

تفاصيل إضافية
WpActionLinkإرشادات المحتوى