Bunga Terakhir

Bunga Terakhir

  • WpView
    Reads 289
  • WpVote
    Votes 48
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Aug 30, 2023
WpInfo
Fiction
Romance
Ketika kebingungan masih merajai ku. Lalu, apa yang bisa aku lakukan? Bukan nya bermaksud untuk melebih-lebihkan. Faktanya memang kebingungan itu seolah mengajak ku untuk bermain teka-teki, menyuruh ku untuk memecahkan rahasianya didalam keterombang-ambingan perasaan ku yang ntah kenapa merasa sangat nyaman ketika mendengar lagu mellow yang satu itu. Ah tidak! Aku lebih suka menyebutnya dengan lagu keramat. Baiklah, teruntuk mu lagu, tolong bawa aku memecahkan rahasia mu yang seolah senang memblokade perasaanku untuk tetap hanyut dalam dunia mu. -Aluna Giantara Sagita
All Rights Reserved
#832
general
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • BALGIOT
  • ALGARES [Hiatus]
  • Satintail
  • BAM || Betapa Aku Mencintaimu (End)
  • I Hope...
  • Beautiful & Broken
  • Boyfriend
  • LANGIT TERBELAH CAHAYA PURNAMA
  • Cinta Dua Waktu
  • Diksi Matahari ⛅ (TAMAT)
BALGIOT

"Belgliot!" Gadis yang lebih memilih menjadikan buku-buku didepannya sebagai penopang tidur terkejut dengan suara wanita parah baya yang memekikkan telinganya. Siapa lagi kalau bukan ibunya--Aynu. "Ibu berulang kali aku bilang jangan panggil Belgliot. Panggil aku Aunur ibu," kata gadis itu kesal telah diusik dalam tidurnya. "Ibu memiliki hak memanggilmu Belgliot apa kau lupa nama lengkapmu Belgliot Aunur Aofha. Seorang gadis cantik yang menggembirakan yang menjadi cahaya penyelamat." "Iya aku tahu ibu. Ibu mengatakan sudah ribuan kali ibu mengatakan sekali lagi aku kasih piring pecah," sahut gadis itu kesal. "ada apa ibu membangunkanku?" "Bisa-bisanya kamu tidur dengan buku-buku ini. Apa kamu lupa sekarang belalang bermunculan dimana-mana kamu harus lebih giat lagi menyelesaikan semua ini. Ibu datang kemari untuk memberikan kamu tambahan buku lagi. Waktu kita tidak banyak, bumi sudah semakin menua. Bencana terjadi dimana-mana kita harus siaga," kata Aynu dengan wajah serius.

More details
WpActionLinkContent Guidelines