My Dangerous CEO

My Dangerous CEO

  • WpView
    Reads 1,149
  • WpVote
    Votes 28
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Sep 10, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
Bakal ada cerita yang di private yaaa!! "Lihat mataku Made.. lihat mataku" katanya lalu ia memutar posisi Madeleine dan langsung memeluk pinggangnya memastikan gadisnya tidak akan lari darinya. Dengan tangannya ia meraih dagu Madeleine dan membuatnya saling menatap satu sama lain. Mata indah berwarna biru muda milik Made seolah menyihir Theo. Theo langsung mengecup bibir Madeleine pelan tapi sangat lembut dan menggairahkan. Ia mengeratkan pelukannya dan meraih tengkuk Madeleine untuk mempererat ciuman mereka. "Kau hanya punyaku Made.. tubuhmu, hatimu, segalanya punyaku. Ingat itu Made. Tidak ada yang boleh menyentuhmu selain aku" ucap Theo sambil mengecup dahi, hidung, mata, dan bibir milik gadisnya itu
All Rights Reserved
#166
dangerous
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Preman Sekolah Jatuh Cinta (PINDAH KE DREAME)
  • SOLITUDE
  • Driving Me Crazy √ [COMPLETED]
  • She is Dara
  • That's My Girl
  • Sexy Deandra vs Bad Rayan
  • Orang Ketiga (Complete)
  • L'amour de ma Vie (The love of my life)
  • My Dangerous Boy✅ {TURNER SERIES #1}

Tepat di depan mata. Raiya seakan membeku disana, matanya nggak terlepas dari mobil yang baru saja terlempar tepat di depannya. Entah kenapa keadaan seolah semakin mendramatisir, hujan turun dengan derasnya sore itu, memadamkan api yang berasal dari ledakan mobil di depannya. Suara sirine ambulans saling bersautan dengan suara sirine mobil polisi, keadaan semakin kacau. Beruntung, yah Raiya bersyukur seseorang yang berada di dalam mobil itu sudah diselamatkan sebelum mobil meledak. Dan seketika itu pula, tubuh Raiya langsung limbung terjatuh begitu saja, isakan tangisnya semakin jelas terdengar meski di bawah guyuran hujan. Satu patah kata pun nggak bisa terucap, ingin sekali dia menghampirinya yang sudah berada di mobil ambulans, tapi kakinya masih saja membeku di tempat. Hanya sesak yang terasa. "Kak Chi-ko ...." "Dia nggak akan kenapa-kenapa! Ayo Ray, gue anter pulang sekarang!" ajak paksa seseorang yang sudah berdiri sejak tadi di belakang Raiya, tapi Raiya hanya bergeming. Seseorang itu samasekali nggak menduga kalau hal semacam ini akan terjadi. Liontin yang ada di genggamannya seketika terlepas begitu melihat mobil lamborgini hitam yang sangat dia kenal terlempar begitu saja di depan Raiya. Dia dekap Raiya ke pelukannya, menatap nanar ke mobil yang sudah nggak berwujud itu. Hanya satu yang ada di pikirannya saat itu, penyesalan. "Kak Chiko, itu Kak Chiko, nggak, nggak, itu bukan Kak Chiko, pasti itu bukan Kak Chiko, dia bukan Kak Chiko!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines