Andai Kau Rasa [Slow Update]

Andai Kau Rasa [Slow Update]

  • WpView
    Reads 2,612
  • WpVote
    Votes 120
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Sep 16, 2018
Aku selalu melantunkan namamu disetiap sepertiga sujudku Aku selalu mengagumi keindahan yang selalu kau tunjukan Aku yang selalu mengingatmu dalam mimpiku Aku yang selalu berharap kau kan menjadi takdirku, kenapa kau begitu padaku Aku selalu berharap dirimu lah yang tertulis di lauh mahfudz, dirimu malah berharap aku bukan garis takdirmu Akan tetapi coba kau mengapa aku tak bisa melupakanmu walaupun sesaat saja. "Coba katakan apa salahku, kenapa aku belum bisa melupakanmu bahkan berhenti mencintaimu walau dirimu telah melakukan hal yang tak bisa ku maafkan, mengapa, mengapa?? Coba kau jawab semua pertanyaanku !!!" "Akankah aku bisa menyaingi keindahan yang selalu ia tunjukan ya Allah, akankah dia membalas sebuah cinta dalam diamku, cukup namanya saja bisa mengusik hatiku" (Assallamu'alaikum readers, ini cerita aku yang pertama jadi maaf ya kalau alur nya tak menentu, juga maaf kalau ceritanya GAJEBO. Oh iya typo bertebaran di dalamnya, jadi harap maklum ya ? happy reading guys. Vote if you like. Comment if you care for my story ?)
All Rights Reserved
#406
islam
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kawin Kontrak? [COMPLETED]
  • KHALISA🖤
  • Mencintaimu Dalam Diam     (On Going)
  • From The Eyes
  • Destiny [Selesai]
  • Hijrah Cinta Sang Akhwat Fillah
  • [SB I] Terperangkap Dalam Tanya [COMPLETED]
  • ANA UHIBBUKA FILLAH  (End)
  • senja di matamu
  • My Quuen is Bad Gril

[COMPLETED] "Jadi lelaki itu yang akan dijodohkan ibu denganku? Tega sekali, Ibu," gerutuku. Aku semakin membulatkan tekadku untuk menolak ini. Tanpa kusadari, ibu melihat ke arah jendela kamarku dan melihatku kesal. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar diketuk. "Baby, buka pintu!" Pintanya tegas. Aku pun membukakan pintu. Lalu menelungkupkan badanku di atas kasur. Ibuku menarik kursi belajarku mendekat ke arahku dan memandangiku, lalu berkata pelan padaku. "Kau tahu sendiri kan kebiasaan di sini? Kau juga tahu asal usulmu? Kau paham betul, bagaimana ibumu ini bertahan? Semua karena ibumu ini sepakat dengan norma di sini. Mana mungkin kita bisa hidup cukup seperti ini kalau tidak mengikuti itu semua. Baby, kau tahu itu semua. Harusnya kaupun seperti ibumu ini, ikut arus itu." Melihatku tidak memandangnya, ibu terus mengatakan hal-hal yang sebenarnya kami berdua sama sama tahu. "Ibu menikah dengan bapakmu ketika seusiamu. Dengan itu, ibu bisa memiliki rumah ini dan seperangkat alat jahit. Ibu mampu membesarkanmu, menyekolahkanmu, memenuhi segala keinginanmu, dan tidak pernah menyusahkan orang lain. Kau memang tidak pernah bertemu bapakmu, tapi ibumu ini sudah bercerita tentangnya." "Kita hidup tanpa kekurangan. Bahkan bisa membantu sesama. Kita pun hidup bahagia. Mereka yang juga melakukan ini pun juga sama." "Menikah bukan sesuatu yang salah, Baby." Ibuku mengakhirinya dengan kalimat itu, lalu berdiri hendak keluar kamarku. "Tapi menjanda di usia muda bukan keinginanku, Bu." Balasku sebelum ibu keluar kamar. Ibuku berhenti sejenak, kemudian keluar dari kamarku. Happy reading~ Jangan lupa untuk: √ Vote √ Coment √ Kritik dan Saran Hargai author dengan vote, terimakasi💞

More details
WpActionLinkContent Guidelines