Story cover for SAHABAT by jessih66
SAHABAT
  • WpView
    Reads 1,576
  • WpVote
    Votes 158
  • WpPart
    Parts 29
  • WpView
    Reads 1,576
  • WpVote
    Votes 158
  • WpPart
    Parts 29
Ongoing, First published May 21, 2017
hari ini adalah hari pertama adis masuk sekolah barunya, ia sudah selesai menggunakan seragam yang rapih. dan dia segera menuruni tangga.

adis : "hay ma..."
rina ibunda adis melihat anak yang sedang turun dari tangga dan menuju ruang makan.

mama adis : "hay sayang".
rina nemberikan senyum manis kepada anaknya

adis segera mengambil roti yang sudah ada di meja makan

adis : "ma adis berangkat sekolah ya ini udh telat".
adis segera mencium punggung tangan mamanya dab segera berlari ke luar rumah.

mama adis : "hati-hati di jalan sayang". rina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat anak semata wayangnya.

adis sedang berjalan menuju halte dekat rumahnya.ia memang orang mampu atau bisa di bilang orang kaya tetapi ia tidak meminta mobil kepada ayahnya kerena ia mau hidup sederhana.
All Rights Reserved
Sign up to add SAHABAT to your library and receive updates
or
#3henputra
Content Guidelines
You may also like
Judul standar - ^-^ "My Teddy Bear " by PutriKipasPelangi
22 parts Complete Mature
"Krrriiiiiiiiiiiiing krrriiiiiiiiiiiiing krrrriiiiiiiiing "tepat pukul 5 dini hari .woooaaaaahm ocha menguap oh astaga alarm tua ini sudah berbunyi, penuh dengan semangat ocha berteriak horeeee ye..yee.ye..berkalikali sambil menari dan memeluk seragam putih abuabunya."ada apa sih ocha kamu berteriak sepagi ini membangunkan seisi rumah".seru ibu ."maaf bu,lg pengen segera pakai taaarraaa,ini lho bu baju seragam smu ocha".Kamu itu sudah remaja tp tingkahmu itu lho cha masih kyk bocah aja...ya dah sana mandi...keburu yang lain ngantri ..." Hari ini tepat tanggal 5 agustus 1995, tahun ajaran baru untuk siswa smu wajar aja ocha kesenangan pakai seragam smu dan pagi ini akan ada ospek. "Ayoo...semuanya sarapan dulu..bapak memanggil anaknya(kamal,husin dan ochA) sambil membaca koran pagi ini...semua anggota keluarga sdh pd berkumpul dimeja makan...(kamal adalah abangnya ocha dan husin adalah adiknya.)tapi ada yg belum sarapan ni "kata ibu...ayooo.ocha..."iya bu...seru ocha sambil berputar putar dicermin dgn baju seragam putih abuabu dan kemudian melangkah menuju ruang makan sambil berlari-lari kecil " tenang bu...ocha siap melahap habis nasi goreng yg lezatnya super mehoy buatan ibu."pelan-pelan makannya."(seru ibu)."Hari ini ocha berangkat ke sekolah naik angkutan umum bu, gak pergi bareng lagi ama Husin dan bg Kemal juga menempuh jarak yg jauh untuk ke kampusnya jadi mulai hari ini ocha belajar naik bus untuk berangkat ke sekolah, dengan terburu-buru ocha menggapai tangan ibu dan bapaknya serta mencium pipinya (ocha pamit dulu y bu,pak)"hati-hati naik busnya"kata ibu."iya bu..."sambut ocha. "Biarkan ocha mandiri,bu...dia sudah besar bu."kata bapak ."iya pak anakmu itu sudah gadis tapi perawakannya tomboy .ocha memang gadis tomboy walaupun perawakannya kekanak-kanakan tapi supel dan ramah bersyukurlah ia punya bapak dan ibu serta saudara lakilaki nya yang satu sama lain saling menyayangi walaupun kehidupan mereka sangat sederhana tapi ocha bahagia .
Don't Talk About Money by catheryn99
55 parts Complete
Pernah ga sih? Kalian sekelas sama anak beasiswa yang ganteng banget, pinter banget, tapi juga sombong banget. Padahal dia tuh miskin banget :( Bukannya Irin judging nih, tapi pernah sekali waktu dia sekelompok sama Tama dan maksa buat kerkel di rumahnya untuk tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia, dan Irin baru tahu, ternyata di Jakarta masih ada ya rumah yang base nya dari kayu tanpa di semen. Letaknya dalam gang kumuh yang bau sampahnya kemana-mana. Tapi jujurly, kalian ga bakal lihat Tama seperti lingkungannya itu, walau dia juga ikut milah sampah yang bisa di daur ulang atau bisa dijual lagi sama bapaknya, semua hal ini yang mendukung Tama mendapat beasiswa untuk berkuliah di universitas terbaik, di tempat yang sama dengan Irin, lewat jalur surat keterangan tidak mampu. Tapi Irin sangat kagum sama Tama, bukan karena wajahnya aja yang tampan, walau hidup Tama terlihat jauh lebih susah dari Irin yang turun naik Jazz ke kampus, Tama ga pernah sekalipun terlihat mengeluh, ga kaya Irin yang perasaan hidupnya ngeluh mulu, malah pinter juga masih pinteran Tama, makanya Irin suka sama Tama, kalo kata Irin sih suka aja, ga yang gimana-gimana, tapi Irin tuh jadi suka ngintilin Tama, minta sekelompok sama Tama, minta diajarin Tama, mau makan bareng Tama atau bawain bahkan beliin Tama makanan, nawarin Tama balik bareng, mau main ke rumah Tama, sampai Tama tuh jengah, dan dari situ Irin menyimpulkan Tama sombong berikut berpemikiran sempit. "Kamu bisa ga? Ga usah dekat-dekat dengan saya? Saya ga butuh belas kasihan kamu, Irin. Jangan bawain saya makanan lagi, ga perlu tawarin saya pulang bareng kamu karena saya bisa sendiri. Jangan masuk ke dunia saya karena kamu tidak cocok. Kamu tidak perlu menempatkan diri sebagai saya karena kamu tidak tahu bagaimana kehidupan saya berjalan. Tapi di luar semua itu, saya bisa menjalankan hidup saya sendiri, tanpa bantuan kamu" Tapi, prinsip Irin tetap satu sejak awal. "Kamu lihat aja, kamu bakal balik dan ngemis cinta sama aku!"
Siapa Kau, Mama? - 𝐍𝐚𝐡𝐲𝐮𝐜𝐤 by imajinachan
18 parts Ongoing
"Bagaimana bisa aku mimpi bertemu Mama kalau aku tidak tahu Mama itu seperti apa Pa?" "Karena itu Papa akan beritahu rahasianya. Kamu mau?" Tawaran Jaemin dengan cepat disambut anggukan ribut putranya. "-apa yang kamu pikirkan tentang Mama?" "Cantik." Jaemin kembali tersenyum ketika mengusap kening sang putra. "Sangat cantik. Mama mu benar-benar cantik.." Jawab Jaemin, kali ini balas Yuta yang tersenyum lebar. "-lalu siapa yang kamu bayangkan saat kamu memikirkan kata cantik?" Jaemin kembali bertanya, membuat Yuta menunjukkan tampang berpikir -seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. "Auntie Renjun cantik sih.. Tapi aku tidak yakin jika Mama cerewet seperti Auntie." Jaemin menahan kekehannya, '𝘔𝘢𝘮𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘤𝘦𝘳𝘦𝘸𝘦𝘵 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨..' "-eumb.. Sekretaris Papa, Bibi di kedai ice cream, Ibu guru. Kecuali Auntie Renjun aku tidak suka mereka." Balas Yuta langsung merengut, kembali ia mendongak untuk menatap tajam sang Papa yang terkekeh pelan ketika melihat ekspresi putra kecilnya. "-Bibi Haechan! Bibi Haechan sangaaaat cantik kan Pa?" Yuta menatap Jaemin dengan tatapan berbinar. Membuat Jaemin menggigit bibir dalam, ia menahan air matanya yang mulai berkaca. Kembali pula direngkuh tubuh kecil jagoannya, ia bawa untuk lebih dekat lagi dengan tubuhnya. "Cantik. Cantik sekali." Begitu mendapat persetujuan dari si Papa, Yuta bersorak kecil. "Yippie!" "Maka pikirkan Bibi Haechan." "Ha, siapa Papa?" "Dan kamu akan bertemu dengan Mamamu di dalam mimpi." "Begitu?" Jaemin mengangguk dengan senyuman lembut. "Tidurlah sayang.."
You may also like
Slide 1 of 10
FILOSOFI RUMAH cover
Jadi Baby?! [Lengkap] cover
BIMANTARA [END]✔ cover
Judul standar - ^-^ "My Teddy Bear " cover
ABRIAGI [END]✔ cover
ALVANSA [Completed] cover
Don't Talk About Money cover
REDIGUEZ FAMILY || END cover
Elisiografi cover
Siapa Kau, Mama? - 𝐍𝐚𝐡𝐲𝐮𝐜𝐤 cover

FILOSOFI RUMAH

31 parts Complete

Deskripsi Cerita: Di rumah ini, pagi dimulai dengan teriakan Audy yang protes karena Mas Aksara iseng menyembunyikan kaos kaki sebelahnya. Lalu, diikuti dengan Mbak Anin yang sok bijak tapi selalu kena mental karena dua adiknya terlalu absurd. Ibu? Dia sudah kebal dengan kegilaan anak-anaknya, cukup menghela napas dan berharap rumah tidak berubah jadi arena smackdown. Namun, di balik candaan, keisengan, dan suara gaduh setiap hari, ada sesuatu yang lebih dalam-sebuah perjalanan. Tentang keluarga yang sempat goyah tapi kembali kokoh. Tentang tawa yang sempat hilang, lalu ditemukan lagi. Karena meskipun kadang menyebalkan, rumah ini tetaplah rumah, tempat di mana mereka selalu kembali, tidak peduli seberapa jauh kaki melangkah. »»---->☆(ノ◕ヮ◕)ノ*<----«« "Rumah itu bukan cuma tempat kita tidur. Rumah itu tempat kita pulang, meskipun kadang isinya penuh orang ngeselin." -𝐀𝐮𝐝𝐲 𝐒𝐞𝐧𝐚𝐧𝐝𝐢𝐤𝐚- "Hidup itu nggak selalu adil, tapi selama ada orang yang bisa bikin kita ketawa setelah nangis, berarti kita nggak sendirian." -𝐀𝐤𝐬𝐚𝐫𝐚 𝐃𝐰𝐢 𝐉𝐚𝐠𝐫𝐚𝐭𝐚𝐫𝐚- "Kita nggak bisa menghindari luka, tapi kita bisa memilih untuk tetap berjalan, meski sambil bawa bekasnya." -𝐀𝐧𝐢𝐧𝐝𝐲𝐚 𝐃𝐢𝐲𝐚𝐡 𝐀𝐲𝐮 𝐒𝐚𝐦𝐢𝐫𝐧𝐚𝐭𝐚- 𝐂𝐨𝐯𝐞𝐫 𝐛𝐲 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫𝐞𝐬𝐭.