Lampion malam

Lampion malam

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 21, 2017
Bunyi ketukan jari yang seirama Menggema dalam angan yang entah berkelana dimana... Hayal ini terbang melintas langit malam yang gelap Sepi,sunyi di tengah keramaian dunia yang tak berbatas waktu dan jarak Sesekali angin meniup rambut panjang terabaikan dari sang pemilik malam itu Hening sejenak.... Hening... Angannya terhenti oleh sebuah sinar terang Lampion itu sendirian di tengah hamparan gelap dan gagahnya langit malam... Berdiri sendiri tanpa seorangpun disisi Mata wanita itu tak berkedip, nyilu melihat lampion penyendiri itu Bibirnya tersenyum sinis "Apakah kau sendiri juga malam ini? Siapakah yang kau tunggu? Kapan ia akan kembali? Aaah... Apakah sama perasaanmu saat ini denganku?" Hening tak bergeming Ia kembali melanjutkan angan di tengah kegelapan malam Namun tak sendiri... Lampion malam tersenyum syahdu menatapnya... Dirimulah yang ku tunggu malam ini.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • CINDY : Sebelum Aku Pergi
  • Tanya Hati (Selesai)
  • [√] DARKNESS
  • laut yang membawanya pergi (END) ✓
  • Bulan Bintang
  • Rembulan ; Na Jaemin [END]
  • SELENOPHILE
  • • EUTANASIA •

"Apa yang sanggup memisahkan dua hati yang saling mencinta? Katakan padaku, Cindy." Suara Rayven terdengar serak, seolah setiap katanya membawa luka yang tak bisa disembuhkan. Tatapan matanya merintih, memohon jawaban dari gadis yang berdiri di hadapannya-jawaban yang mungkin bisa menyelamatkan hatinya dari kehancuran. Cindy menatap tanah sejenak, bibirnya bergetar. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap mata Rayven dengan pandangan yang dipenuhi air mata dan rasa sesal. Dengan suara yang lirih, sehalus angin yang menyesap di antara rinai hujan, ia menjawab: "Waktu, Rayven... dan tempat yang tak lagi sama." Air matanya jatuh, tanpa bisa dicegah, menyatu dengan tetes hujan yang membasahi dunia di sekitar mereka. Hujan turun seolah ikut menangis, mengiringi jiwa yang saling mencinta namun tak bisa bersama. Rayven menggeleng pelan, hatinya mencabik dari dalam. Ia meraih tangan Cindy, memohon dengan sisa harapan yang ia miliki, Namun Cindy menarik tangannya, perlahan tapi pasti, lalu melangkah mundur. "Kalau waktu memisahkan kita... maka aku akan menunggu selamanya!" Rayven berseru, suaranya nyaris patah. "Cindy, tolong... beri aku alasan! Kenapa kamu harus pergi? Kenapa bukan kita yang melawan dunia ini bersama?" Cindy tersenyum dalam tangisnya. "Karena tidak semua cinta ditakdirkan untuk dimenangkan, Rayven..." Kemudian ia berbalik, melangkah pergi, meninggalkan Rayven di tengah hujan yang kini terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines