Kisah kisah ini ku penakan agar kelak, siapapun yang membacanya tau..
Pernah ada seorang gadis, yang tak ingin dengan sangat untuk pergi, tapi terpaksa dan dipaksa harus angkat kaki, oleh hati yang ia kira rumahnya sampai nanti..
Rasa rasa di dalam dada terus tumbuh tak henti, menjalar..
Ia parau, ia muram, ia sendu, tiap hari berganti bait demi bait puisi ia jajaki.
Sampai akhirnya, ia sadar, bahwa sesuatu yang tak ingin di genggam, tak akan pernah bisa berhenti melukai.
Tapi benaknya tak mangkir dari tanya..
" Kalau lah memang, hadirku tak pernah berharga..
Lantas apa?
Apa yang membuat ragamu tak berkata..
Kalau lah memang, rasa yang terdamba tak pernah ada..
Lantas mengapa?
Mengapa masih saja kau buat aku mengira ini bukan maya.
Kalau lah memang, aku bukan rumah raga mu..
Lantas dimana?
Dimana tempatmu berteduh mengadu..
Kalau lah memang, bayang wajahku tak pernah singgah dalam benakmu..
Lalu apa rindu?
Elu elu kata yang hampir tiap larut kau lafal kan, semu?
Kalau lah memang, semua kisah kisah kita yang terekam jelas dalam ingat ku, hanya sepenggal bohong belaka..
Izinkan aku menyalinnya..
Agar kelak jika suatu waktu kau sadar, akan hadir ku dulu,
Aku bisa mendiktenya,
Hingga kau pun tau, sewaktu kau segala ku..
Aku hanya sebatas daun daun kerontang yang jatuh..
Melayang..
Gugur..
Hangus..
Diantara ranting dan rimbun nya dahan mu yang julang."
Arkana hanya berniat pulang kerja seperti biasa, hingga pertemuannya dengan seorang perempuan di kereta mengubah segalanya. Alira, dengan tatapan hangat dan senyuman penuh rahasia, datang dan pergi seperti mimpi yang belum sempat diingat.
Namun takdir belum selesai bicara.
Ketika Alira menghilang tanpa jejak, Arkana tenggelam dalam penantian panjang yang dipenuhi tanya. Tapi hidup terus berlanjut, dengan kafe yang jadi tempat berlindung, teman-teman yang konyol sekaligus tulus, hingga secercah harapan yang muncul dari potongan petunjuk yang berserakan.
Senandika bukan sekadar kisah cinta dua insan. Ini adalah cerita tentang kehilangan, harapan, keluarga, dan keberanian untuk mencintai meski luka belum sembuh sepenuhnya.
Dan ketika mereka bertemu kembali, apakah cinta masih tinggal di antara jeda waktu?