Un-Ephemeral Bond

Un-Ephemeral Bond

  • WpView
    Leituras 2,300
  • WpVote
    Votos 168
  • WpPart
    Capítulos 7
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização ter, ago 8, 2017
WpInfo
Ficção
Romance
"APA?" Mila salah tingkah juga ditatap dan diberi senyum begitu. Ia tertawa kecil dan tangan kanannya terangkat pelan keatas lalu, Jemari-jemarinya yang hangat karena pengaruh alkohol menyentuh pipi Mila. Ia mengelus pelan pipi Mila dengan ibu jarinya. "Aa..Apa-apaan kau in... " "Kau manis juga." Dug. Pria itu menjatuhkan tangannya sementara kepalanya tertunduk mendarat di perut Mila--kesadaran dirinya hilang. Alkohol berat. Mabuk. Bar. Apalagi kalau bukan Bad Boy kelas berat? Sederhana, tapi sebenarnya tidak. Perjalanan seorang Mila yang penuh mimpi dan Orang asing yang ditemui nya di sudut bar, Dylan-- dengan segudang masa lalu kelamnya. Yet, siapa sangka bila Dylan punya segudang yang kelam, Mila punya ratusan gudang? "I want this to be an Un-Ephemeral Bond, sebuah ikatan yang tidak hanya berada dalam jangka waktu yang singkat."
Creative Commons (CC) Atribuição
#337
strangers
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Preman Sekolah Jatuh Cinta (PINDAH KE DREAME)
  • Jemuran Zone
  • TAMARA
  • LANGIT JINGGA (TAMAT)
  • Ex or New? [REVISI]
  • Diana
  • NIDA ( END )
  • psychologycal
  • HTS (Hubungan Tentang Status)
  • After I Met You (Hiatus)

Tepat di depan mata. Raiya seakan membeku disana, matanya nggak terlepas dari mobil yang baru saja terlempar tepat di depannya. Entah kenapa keadaan seolah semakin mendramatisir, hujan turun dengan derasnya sore itu, memadamkan api yang berasal dari ledakan mobil di depannya. Suara sirine ambulans saling bersautan dengan suara sirine mobil polisi, keadaan semakin kacau. Beruntung, yah Raiya bersyukur seseorang yang berada di dalam mobil itu sudah diselamatkan sebelum mobil meledak. Dan seketika itu pula, tubuh Raiya langsung limbung terjatuh begitu saja, isakan tangisnya semakin jelas terdengar meski di bawah guyuran hujan. Satu patah kata pun nggak bisa terucap, ingin sekali dia menghampirinya yang sudah berada di mobil ambulans, tapi kakinya masih saja membeku di tempat. Hanya sesak yang terasa. "Kak Chi-ko ...." "Dia nggak akan kenapa-kenapa! Ayo Ray, gue anter pulang sekarang!" ajak paksa seseorang yang sudah berdiri sejak tadi di belakang Raiya, tapi Raiya hanya bergeming. Seseorang itu samasekali nggak menduga kalau hal semacam ini akan terjadi. Liontin yang ada di genggamannya seketika terlepas begitu melihat mobil lamborgini hitam yang sangat dia kenal terlempar begitu saja di depan Raiya. Dia dekap Raiya ke pelukannya, menatap nanar ke mobil yang sudah nggak berwujud itu. Hanya satu yang ada di pikirannya saat itu, penyesalan. "Kak Chiko, itu Kak Chiko, nggak, nggak, itu bukan Kak Chiko, pasti itu bukan Kak Chiko, dia bukan Kak Chiko!"

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo