The Train Time

The Train Time

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Oct 19, 2017
Jika kesempatan kedua itu sungguh-sungguh terjadi, gadis itu akan melakukan segala hal untuk merubah segalanya untuk tidak berlabuh terlalu jauh. Tapi, Tuhan berkata lain, setiap hari yang dilewati manusia adalah kesempatan kedua bagi manusia. . . . Gadis itu, Adelyn Desti Renata, berdiri disebuah padang rumput dengan rambut hitam panjangnya yang teruai diterpai angin lembut yang datang. "kau sedang apa?" -adelyn "aku sedang bermain dengan sahabatku" -gadis kecil . "kurasa kau sudah cukup besar sekarang, apa yang sedang kau lakukan?" -adelyn "aku sedang berusaha mengejar mimpiku" -gadis remaja . "sekarang kau sudah menjadi wanita dewasa. apa kabarmu" -adelyn "ya, aku sudah dewasa dan aku sedang bersama laki-laki yang sudah menyamankan hatiku" -gadis dewasa . . "aku sudah melihatmu tumbuh hingga sekarang, tapi kenapa aku selalu bertemu denganmu? dan kenapa kau berdiri dipinggir jurang yang curam itu? dan siapa kamu? -adelyn "karena aku bukanlah orang asing bagimu. aku berdiri dipinggir jurang ini karena ini adalah pilihanmu sendiri. oh, dan namaku adalah............Adelyn" -? . . . . . #First Story
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Yang Dulu Melukai,Kini Menyayangi [END]
  • BEAST AND YOU (End)
  • DENNIES
  • Jika Nanti Aku Kembali
  • Harapan Dandelion yang Rapuh
  • Waktu?
  • Different [END]
  • ELGITA: Yang Tak Pernah Terucap (Revisi)
  • Cahaya Redup [END]✓
  • Second Life

Cerita ini mengisahkan seorang siswa yang hidupnya penuh penderitaan, baik di sekolah maupun di rumah. Ia adalah seorang anak yang lugu, mudah sakit, dan terperangkap dalam masa hidup yang kelam. Di sekolah, ia selalu menjadi sasaran bullying. Teman-temannya menjauhinya, bahkan tak ada satu pun yang mau berteman dengannya. Setiap hari, ia merasa kesepian dan tak berdaya, terjebak dalam dunia yang penuh rasa sakit dan penghinaan. Di rumah, kondisi yang lebih buruk lagi menunggunya. Kedua orang tuanya tidak menunjukkan kasih sayang sama sekali. Alih-alih memberikan dukungan, mereka justru menyiksanya, baik secara fisik maupun emosional. Setiap kali ia mendapatkan nilai yang buruk, atau bahkan tidak mendapatkan nilai seratus, ia akan dihukum dengan tidak diberi makan dan terus disiksa. Kata-kata yang terlontar dari orang tuanya begitu menyakitkan, membuatnya merasa seperti anak yang tidak berguna dan tak pantas untuk dihargai. Kondisi ini membuatnya terpuruk dalam keputusasaan. Ia merasa hidupnya tidak berarti dan mulai berpikir untuk menyerah. Setiap kali dibuli atau disiksa, ia hanya pasrah dan tidak berdaya, seakan-akan dunia ini terlalu berat untuk ia hadapi. Ia tak pernah merasakan kehangatan keluarga yang seharusnya menjadi tempat pelindungnya. Ia selalu iri melihat kebahagiaan orang lain, namun dirinya tak pernah merasakannya. Di luar, wajahnya selalu datar, tak pernah ada senyum yang menghiasi wajahnya. Luka-luka fisik dan emosional yang ia alami menjadi beban berat yang membentuk dirinya menjadi sosok yang tertutup dan terpuruk. Ia hanya bisa bersembunyi di balik kesedihan, tak tahu harus bagaimana lagi untuk bertahan. Bagaimana kisahnya akan berlanjut? Akankah ada secercah harapan yang datang untuk mengubah hidupnya? Mari kita saksikan perjalanan hidupnya yang penuh dengan perjuangan dan air mata... cerita ini murni dari pikiran yana sendiri dan jangan plagiat!!

More details
WpActionLinkContent Guidelines