[ON HOLD] Ekuilibrium

[ON HOLD] Ekuilibrium

  • WpView
    Reads 40,308
  • WpVote
    Votes 4,203
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Dec 23, 2019
Oke. Sebelum menyelam lebih jauh ke dalam kronik hidupku, ada baiknya kalau kita berkenalan dulu supaya tidak canggung. Namaku Dee. Aku punya saudara kembar yang satu juta kali jauh lebih manis daripada aku. Mamaku perfeksionis dan dia wanita karir sukses yang membenci suaminya. Ralat, mantan suaminya. Aku adalah produk broken home, versi yang berbeda dari kebanyakan novel. Karena tahu, kan? Aku nggak serusak itu. Dan nggak semua anak broken home adalah produk gagal. Kami bukan mutan yang gagal dikembangkan di laboratorium. Soalnya, di dunia ilmiah kan nggak pernah pakai manusia buat media percobaan mutasi genetik. Tapi kadang-kadang, bersumber dari pemikiran Mama kalau aku adalah manusia paling absurd yang pernah dikenalnya, aku jadi bertanya-tanya. Apa jangan-jangan, aku memang mutan yang datang dari angkasa luar?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kami Tumbuh Dari Ledakan
  • [BL] Sudden Omega
  • Rumah Penuh Cerita
  • When Mom Knows Us
  • Cermin TAK Sama
  • 𝐉𝐈𝐇𝐀𝐍
  • M E M O R Y  (On Going)
  • ANTAGONIS MOTHER || REVISI
  • 𝐎𝐁𝐒𝐄𝐒𝐒𝐈𝐎𝐍 [ 𝚂𝚕𝚘𝚠 𝚄𝚙𝚍𝚊𝚝𝚎 ]
  • Being A Stupid Stepmother [END]

Di sebuah rumah yang lebih sering berisik oleh bentakan daripada tawa, tiga anak tumbuh dari puing-puing cinta yang retak. Ara, si sulung yang belajar menjadi atap saat bapaknya lebih sering pergi ketimbang tinggal. Rei, anak tengah yang mencoba menjadi lelaki tanpa pernah punya contoh. Dan Zea, si bungsu yang bersembunyi di balik boneka bermata satu sambil bertanya dalam hati: "Apa semua rumah seperti ini?" Saat rumah yang dulu mereka sebut "pulang" tak lagi memberi tempat, satu per satu dari mereka harus memilih: tinggal dalam reruntuhan, atau membangun sendiri pondasi baru-meski dengan tangan gemetar. Ini bukan kisah keluarga yang sempurna. Ini kisah tentang bertahan meski tidak utuh, tentang anak-anak yang tak ingin mewarisi luka orang tuanya. Dan tentang keberanian untuk berkata: "Ledakan itu berhenti di sini." Karena tumbuh dari kehancuran... bukan alasan untuk mencintai dengan cara yang menyakitkan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines