Tinta emas menuliskan kemasyhuran Wilwatikta yang agung, puja-pujian darah campuran pengkhianat dan pejuang, bersatu melahirkan raja-raja Jawa. Tak terhapus, namun namanya tercela sepanjang aksara pujangga yang menuliskannya Jayanegara, yang kotor, tamak, rakus, dan cacat. Jayanegara, Yuwaraja yang hina, tak sebaik-baiknya Maharaja Majapahit. Ditumbalkan demi kemurnian tahta, kekuasaan yang fana itu diperoleh leluhurnya dengan pertumpahan darah Mahisa Campaka dan perebutan kekuasaan. Dan kini? Kematiannya pun diramalkan akan terjadi bersamaan kekecewaan kasihnya, Roro Sekarwuning, di bawah naungan Wintang Alit yang murka. Semesta mendengar tangisannya, mendengar suara amukannya yang terpendam, menanamkan dendam, semua kutukan Kala menghantam jiwanya. Seluruh jagat raya menolak kehadirannya, tetapi Sanghyang Tunggal, dalam Krodha-nya, mengabulkan doa-doa permintaan Jayanegara: terlahir kembali dalam perwujudan pria milenial abad 21, mencari cintanya yang hilang, mencari apa yang telah lenyap dari jiwanya, di bawah bayang-bayang Kala Ratri. Indonesia, ranahasmoro. ©(2025-2026) [ Perlu diingat bahwa cerita ini merupakan karya fiksi dan fantasi. Beberapa elemen mungkin tidak sesuai dengan sejarah atau kenyataan. Hak cipta dilindungi. ]
Plus d’Infos