Diligitis
  • WpView
    Reads 586
  • WpVote
    Votes 70
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadMatureOngoing47m
WpMetadataNoticeLast published Thu, Nov 16, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
[ON GOING] "gue panggil Ara gak masalah kan?" tanya Rio sambil mengeluarkan buku paketnya dari dalam tas. Rara yang terkejut hanya memandangi Rio. "gak boleh ya?" tanya Rio lagi menyadarkan Rara dari lamunannya. "eh...gak masalah kok, senyaman lo aja manggil gue apa." Jawab Rara tersenyum kikuk dan dibalas senyuman hangat oleh Rio. "kayaknya baru kali ini ya kita sekelas dan ngobrol gini? Padahal satu sekolah dari SMP, jahat ya kita gak pernah disatuin, lucu deh." Ujar Rio tanpa mengalihkan pandangannya dari buku cetak di hadapannya. Takdir mempersatukan Rara Fradella Primadona dengan "Most Wanted" SMA Scienza, Rio Kayana Meshach. Rara yang telah mengagumi Rio sejak SMP akankah perasaannya terbalas dan bersatu? sedangkan Doni, kakak tiri Rara selalu memisahkan mereka? Diligitis | By Winda as @Midnightaddicts_ ©2017 - All Rights Reserved
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nyanyian Sunyi Sang Sundayana
  • IVAN QIDRAN
  • [C] Beneath His Gentle Lies
  • Assalamualaikum Ustazah, KAHWINI SUAMIKU.
  • Shanarqie
  • DUDAKU ATAU SUAMIKU (E-BOOK)C
  • loveholic
  • Aku Yang Salah [EDITING]
  • Di sebalik layar
  • Eyes Contact [Jefri Nichol]

Di tanah Kawali yang berembun, lahirlah seorang putri yang ditakdirkan bukan untuk dirinya sendiri. Dyah Pitaloka Citraresmi, sekar Sunda dari istana Galuh, tumbuh di bawah kasih ibunda dan kebijaksanaan ayahandanya, Prabu Linggabuana. Ketika surat pinangan dari Majapahit datang, dunia berubah. Di balik nama besar Hayam Wuruk dan bayangan Gajah Mada, cinta berubah menjadi medan kehormatan. Dari Sungai Cikawali yang bening hingga tanah Bubat yang merah, langkah Pitaloka menjadi jembatan antara cinta dan martabat. Ia bukan sekadar putri-ia adalah nyanyian yang lahir dari air mata, doa, dan darah bangsanya. Nyanyian Sunyi Sang Sundayana adalah kisah tentang cinta yang patah sebelum sempat berbunga, tentang kehormatan yang dijaga sampai napas terakhir, dan tentang nyanyian abadi dari tanah Sunda yang tak pernah berhenti meratap sejak hari darah itu di Bubat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines