Rein-Carnation

Rein-Carnation

  • WpView
    Reads 445
  • WpVote
    Votes 45
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 14, 2017
WpInfo
Fiction
Fantasy
"Aku adalah kamu, Terlilit oleh janji, Dimana bunga berdosa mekar, Sebagaimana perasaan terlarang megar." Aku adalah seorang pendiam yang tidak memiliki teman. Latar belakang yang gelap membuat diriku melarikan diri dari semua orang. Sampai, seseorang mendekatiku. Seseorang yang kusuka sampai saat kini; seorang anak pindahan yang menjadi sahabatku. Lalu, muncullah dia - seseorang bermuka dua, yang sebenarnya meniru diriku. Segala cara yang kulakukan untuk mendapat hati orang yang kusuka tadi dia imitasikan. Kami sangat berbeda di mata sendiri, namun sangat mirip di mata orang lain. Hobi, sifat - semua sama. Saat aku tidak ada, ia menggantikan diriku dan memikat cowok yang kita sukai dengan berpura-pura menjadi diriku. Atau mungkin, bukan berpura-pura, karena ia memang... Diriku, bukan orang lain. Ternyata berbagi romansa dengan diri sendiri sulit, bukan? Karena aku, Lotus Kembangria, ada dua. - Highest Rank: #580 in Fantasy
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hopeless
  • Mental Disease
  • Eliinaa
  • Aku Jatuh dan Cinta
  • RETAK [Sudah Terbit]✓
  • Let Me Love You Longer
  • My Brother My Enemy
  • Dua Cinta (Our Promise)
Hopeless

[COMPLETED] "Whoever told you that life would be easy, I promise that person was lying to you." --Kondisi dimana tidak memiliki ekspetasi tentang hal-hal baik yang akan terjadi dan juga kesuksesan di masa mendatang. [Definition of Hopeless] Apakah ini tentang kisah cinta masa remajaku? Astaga, bahkan aku tidak yakin tentang cinta itu nyata. Yang aku tahu hanya luka dan luka. Itu saja. Tangisanku bukan tangisan patah hati, lagipula perasaanku sudah mati. Jiwaku diasuh oleh sepi, hingga teman terbaikku hanya rasa sendiri. Setidaknya aku punya mereka, orang yang mengajariku bahwa aku tidak sendirian. Meskipun ada kalanya aku menyerah dan pasrah. Apakah akhir ceritaku ini bahagia? Apakah aku akan terus berkawan dengan tangisan, hingga aku lupa cara untuk mencari kebahagiaan? Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang sakit secara jiwa, aku bersahabat dengan sesuatu yang mereka sebut depresi. Hingga yang kukenali hanya keputusasaan pada masa depan diri sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines