Kamu dan Kucing-Kucing Kampus

Kamu dan Kucing-Kucing Kampus

  • WpView
    Reads 494
  • WpVote
    Votes 44
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 25, 2023
"Jangan pernah berduaan sama lawan jenis saat street feeding kucing-kucing kampus." Begitulah sepotong bunyi pamali yang beredar ketika Haira resmi menjadi anggota baru komunitas peduli kucing kampus. Awalnya Haira mangut-mangut tanpa komentar, setidaknya sampai datang tugas pertamanya untuk mengisi stok persediaan makanan kucing petang itu. Di tengah hujan sore yang makin deras, Haira berpapasan dengan Rendaru. Barangkali kisah masa lalu dirinya bersama Rimba sudah cukup untuk menepis, tetapi mengapa kehadiran Rendaru selalu membuat Haira ragu? © acromeow 2023
All Rights Reserved
#30
kasmaran
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Reynand & Joya | END
  • Interested [TERBIT]
  • See You After Midnight [END]
  • Campus Scandal
  • It's Raining Outside [END]
  • [CAMPUS COUPLE] Ray Hidayata - Goodbye and Go
  • Thesis & Tension (COMPLETED)
  • DIVISI [✓]

Follow sebelum baca yuk, untuk mengikuti ceritanya. #645 dalam TEEN FICTION-11/3/2018 #961 dalam TEEN FICTION-9/2/2018 "Kuda poni! Dasar jelek, sinting, kutu kupret, tai lo. Maju sini, gue telen lo hidup-hidup!" teriak Joya mengerahkan semua kekesalannya. Ia bersumpah serapah tanpa berpikir mengampuni orang yang sudah membuat hidupnya sengsara. "Nggak usah teriak-teriak, gue di sini." Suara orang tersebut berada di atas pohon dekat parkiran. Reflek, kedua gadis itu menengadah, menatap pemuda nakal yang nangkring di atas sana. "Turun lo!" perintah Joya seraya berkacak pinggang. "Mau apa? Mau cium gue, ya? Idih nakal." Pemuda itu malah membuat Joya semakin kesal. Ocehannya selalu saja ampuh membuat hari-hari gadis itu semakin runyam. "Najis. Mati aja lo, pengecut!" Joya masih kesal, sehingga kata-kata yang keluar dari mulutnya begitu tidak terkontrol. "Kurang banyak sih, 'kan cuma kempes, nggak sampai penyok." Rutinitas nakalmu berujung terbiasa. Kalo pengen tau terutama Baca selengkapnya ya..... (Di larang mengutip atau menjiplak sebagian/keseluruhan cerita ini tanpa izin)

More details
WpActionLinkContent Guidelines