Senja dan Asa

Senja dan Asa

  • WpView
    LETTURE 38
  • WpVote
    Voti 4
  • WpPart
    Parti 2
WpMetadataReadPer adultiIn corso
WpMetadataNoticeUltima pubblicazione dom, mar 1, 2020
Tuhan memiliki banyak cara untuk membuat makhluknya kuat. Tapi apakah aku harus selalu berpura-pura untuk tegar? Aku hanya tak ingin terlihat rapuh di depan mereka. Tapi bukan berarti aku harus tetap memasang mimik bahagia ini yang seolah semuanya baik-baik saja. Hidup terlalu sulit untuk ku jalani. Ya, memang harus tetap kujalani. Meski rancu oleh asa yang gak pernah terhenti, meski reruntuhan rasa kecewa memonopoli hati. Untuk orang yang ku sayang, untuk orang yang ku rindu, aku harus tetap berjuang untuk melupakan dan melupakan untuk berjuang pada senja di ujung asa.
Tutti i diritti riservati
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • You're Here, But Not For Me
  • Langit.
  • SELEPAS KAU PERGI (END)
  • For My Heart
  • Masih Ada Kamu di Setiap Luka [TAMAT]
  • Senja yang Tersamarkan (COMPLETED)
  • Senja Yang Tak Kembali
  • Sekali Lagi (End)
  • IF YOU
  • LANGGIT

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti