FILOFODAYS

FILOFODAYS

  • WpView
    Reads 290
  • WpVote
    Votes 30
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 24, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
Apakah aku cantik?ya,semua orang berkata begitu. Aku kaya?tentu saja,kedua orang tuaku memiliki perusahaan masing-masing. Pintar....hm,nilai rata-rata ku tidak pernah menyentuh angka 8. Bagaimana dengan sosialitasku? Aku berteman dengan mereka tanpa perlu memakai topeng,dan tampaknya mereka suka dengan sikapku. Hidupku sempurna,hingga aku tidak menyadari bibit masalah telah tumbuh menjadi pohon yang rindang. Kalian ingin tahu tentang hidupku?saat aku berhasil melewati hidup tanpa menyandang kata cantik,kaya,dan pintar.kisah hidup saat aku mulai memakai topeng?dan kisah cintaku dengan dia si dia,sang bibit masalah?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)
  • Problem's love ✔
  • Regrets of Love
  • Need You
  • Insecure [REVISI]
  • [END] Blind Rainbow
  • Cahaya [COMPLETED]
  • Tentang Ashel
  • Ilusi

SEGERA DITERBITKAN Sebenarnya ini adalah idenya Liaa. Entah apa yang merasuki otaknya kali ini, sehingga memintaku untuk menulis. Aku tidak pandai merangkai kata-kata, apalagi menyelesaikan suatu cerita. Tidak seperti Liaa yang sangat menikmati saat-saat merangkai setiap paragraf dalam mengembangkan idenya. Bersenandika, mengolah diksi, menulis berbagai tema, dan menuntut pancaindra agar lebih peka. Bila satu paragraf saja membuatku termenung berlama-lama, apalagi satu novel yang sampai beratus-ratus halaman tebalnya. Aku bisa gila, Liaa. Namun, gadisku yang cerewet dan berambisi besar itu pasti akan memprotes, "Kamu pasti bisa, kok, jangan pesimis, deh! Belum apa-apa udah ngeluh. Nulis itu gampang, cuma kamunya aja yang gak mau usaha!" Begitulah Liaa, dia 'illfeel' dengan orang yang angkat tangan sebelum berjuang. Alih-alih memotivasi, malah muncrat juga omelannya. "Iya, Liaa. Jangan ngambek, aku cium, nih!" Ancamanku membuat pipinya seketika memerah bak kepiting rebus. Aku sangat buruk dalam mengembangkan ide cerita. Jauh dibanding Liaa yang bisa menyelesaikan dua novel sekaligus. Ya, novel-novel itu adalah kisah kami yang dia tulis. Tugasku cukup diam dan jangan membuatnya marah. Jika tidak, Liaa akan berhenti menulis dan mengomel seperti ibu-ibu kostan. Karena sejatinya waktu terbaik untuk menulis adalah 'mood' yang baik.

More details
WpActionLinkContent Guidelines