Conscience
  • WpView
    LECTURAS 549
  • WpVote
    Votos 127
  • WpPart
    Partes 15
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación sáb, sep 9, 2017
Tentang suara hati yang bisa diungkapkan dengan tulisan, kegelisahan, cinta, dan air mata. Pemikiran-pemikiran yang sederhana dan bersifat privasi Ketika lidah tidak lagi mampu untuk mengucapkan., disitulah pemikiran itu datang Ferdinan, ia berbeda dari yang lain. Dia memiliki suatu kemampuan yang jarang ditemui banyak orang. Ia bisa mendengar semua suara hati orang disekitarnya Namun suatu kali, ia tidak bertemu dengan sesorang yang tidak bisa ia dengar suara hatinya. Dia adalah seorang perempuan yang tidak cukup terkenal di sekolah. Namanya Fanin, seorang gadis yang membuat Dinan bingung. Telah ia lakukan beberapa cara agar bisa mendengar isi hatinya, sayangnya tidak mempan juga. "Kamu tau ga, apa yang aku harapin sekarang apa?" tanya Dinan sambil berbaring di atas kaki Fanin "Gatau lah" "Aku berharap kamu bisa denger suara aku. Suara yang hanya berisi kata-kata tentang rinduku kepada mu
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Senja Yang Sunyi
  • Lembar Terakhir Surat Untuk Dika
  • Rasa Tanpa Kata
  • TEMU (Revisi)
  • Friendship Goals

Arunika, gadis ceria yang selalu tampak kuat di hadapan teman-temannya, menyimpan luka yang tak terlihat. Di rumah, ia merasa asing dengan kedua orang tuanya-seolah menjadi tamu di tempat yang seharusnya ia sebut rumah. Kakak yang paling ia sayangi telah pergi meninggalkannya, membuat rumah terasa semakin sepi. Satu-satunya tempatnya bersandar adalah sang oma, wanita yang selalu menghangatkan hatinya dengan kasih sayang tanpa syarat. Namun, takdir kembali menguji Arunika. Evan, sosok yang ia percaya akan selalu ada, justru membuatnya kecewa. Dan ketika dunia terasa semakin berat, oma yang paling ia miliki pun pergi meninggalkannya selamanya. Di sekolah, Arunika masih mencoba tersenyum, seolah tak ada yang terjadi. Ia berusaha tetap tegar, meski hatinya perlahan terkikis oleh kehilangan demi kehilangan. Namun, di balik senyum yang ia tunjukkan, ada satu tempat di mana ia bisa benar-benar menjadi dirinya sendiri-danau yang tenang, tempat pelariannya dari dunia yang terus melukainya. Di tepi danau itulah, Arunika merangkai ulang kepingan hatinya yang hancur. Tapi, sampai kapan ia bisa bertahan? Akankah Arunika mampu melewati semuanya dan menemukan kembali cahaya di hidupnya?

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido