Vanilla
  • WpView
    Reads 39
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Dec 25, 2017
Aku tak pernah terbayang sebelumnya, aku hanya sedang melihat sang surya tenggelam di ufuk barat diatas sebuah rooftop. Tidak ada yang spesial bukan, tapi setiap detik yang aku lihat kali ini tak akan pernah terlupakan dalam hidupku. Aku bisa melihat keindahan yang sebanding dengan sebuah bola emas raksasa di batas cakrawala. "Indah bukan?, Nilla" katanya sembari menunjuk kearah barat. Kepada siapa kau tujukan kata itu, seseorang yang kau sebut itu tidak ada disini. Andai kau tau itu bukanlah nama seseorang yang sedang kau ajak bicara sekarang. Tapi pandanganku masih mengarah padanya. Senyuman sehangat matahari itu, aku sangat bersyukur bisa melihatnya dibalik terpaan cahaya senja. "Iya kau benar, sangat indah." jawabku. Aku tidak memperdulikan lagi dengan apa yang ada di depanku. Saat ini aku sudah melihat sesuatu yang berkali lipat lebih Indah. Apakah kau tau, Revan? Ketika aku melihat senyumanmu, sunset bahkan tidak ada apa-apanya. ---Vanilla --- @copyright2017 by Trinard
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kawin Kontrak? [COMPLETED]
  • Keano
  • I'm broken [BHS#1]✓
  • NADIRAEFAL
  • Aerilyn
  • ketika senja menyapa
  • Semu [Completed]
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • Sefrekuensi {ON GOING}
  • Lonely Tomorrow

[COMPLETED] "Jadi lelaki itu yang akan dijodohkan ibu denganku? Tega sekali, Ibu," gerutuku. Aku semakin membulatkan tekadku untuk menolak ini. Tanpa kusadari, ibu melihat ke arah jendela kamarku dan melihatku kesal. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar diketuk. "Baby, buka pintu!" Pintanya tegas. Aku pun membukakan pintu. Lalu menelungkupkan badanku di atas kasur. Ibuku menarik kursi belajarku mendekat ke arahku dan memandangiku, lalu berkata pelan padaku. "Kau tahu sendiri kan kebiasaan di sini? Kau juga tahu asal usulmu? Kau paham betul, bagaimana ibumu ini bertahan? Semua karena ibumu ini sepakat dengan norma di sini. Mana mungkin kita bisa hidup cukup seperti ini kalau tidak mengikuti itu semua. Baby, kau tahu itu semua. Harusnya kaupun seperti ibumu ini, ikut arus itu." Melihatku tidak memandangnya, ibu terus mengatakan hal-hal yang sebenarnya kami berdua sama sama tahu. "Ibu menikah dengan bapakmu ketika seusiamu. Dengan itu, ibu bisa memiliki rumah ini dan seperangkat alat jahit. Ibu mampu membesarkanmu, menyekolahkanmu, memenuhi segala keinginanmu, dan tidak pernah menyusahkan orang lain. Kau memang tidak pernah bertemu bapakmu, tapi ibumu ini sudah bercerita tentangnya." "Kita hidup tanpa kekurangan. Bahkan bisa membantu sesama. Kita pun hidup bahagia. Mereka yang juga melakukan ini pun juga sama." "Menikah bukan sesuatu yang salah, Baby." Ibuku mengakhirinya dengan kalimat itu, lalu berdiri hendak keluar kamarku. "Tapi menjanda di usia muda bukan keinginanku, Bu." Balasku sebelum ibu keluar kamar. Ibuku berhenti sejenak, kemudian keluar dari kamarku. Happy reading~ Jangan lupa untuk: √ Vote √ Coment √ Kritik dan Saran Hargai author dengan vote, terimakasi💞

More details
WpActionLinkContent Guidelines