Nesya semakin menangis, dia menggeleng lemah. " Kamu gila, Ta!".
Nata memejamkan matanya, tertunduk di bawah teriknya sinar matahari.
" Kamu yang gila, Sya. Aku capek gini terus, aku cinta kamu. " suara Nata merendah. Dia berjalan mendekat ke arah Nesya, lalu membawa Nesya ke dalam dekapannya.
" Aku juga, ". Balas Nesya.
Nayla mendekat dengan mata sembabnya.
" Aku nggak nyangka, Sya. Kamu main api di belakang aku! ".
Nesya menggeleng, " Enggak! Nggak gitu! Dengeri aku Nay!".
Nayla melepaskan tangan Nesya dengan kasar, berlari pergi meninggalkan Nesya yang di penuhi rasa bersalah.
Kesalahfahaman itu kini tercipta, tanpa ada pihak yang mendengarkan
kejadian yang sebenarnya.
"Freya ingin seperti marsha, dipeluk, dicium, dibanggakan, freya ingin disayang ma pah"
"Freya bisa ga sih sekali aja ga nyusahin mama!"
"Pah, Freya pengen jalan-jalan sama papah"
"Pergi sana sendiri, saya sibuk!"
"Marsha mau jalan-jalan ga sayang?"
"Mau pah!"
"Freya juga mau ikut pah"
"Kamu dirumah aja jagain rumah"
Anak mereka cuma satu yaitu Marsha, Freya sudah mati sejak dulu, dan sekarang freya hidup sebagai berandalan, tak punya rasa kasih sayang!