Come Back

Come Back

  • WpView
    Reads 501
  • WpVote
    Votes 117
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadComplete Sat, Jan 13, 2018
"Lo adalah cowok pertama yang buat gue jatuh cinta. Lo, cinta pertama gue. Dan lo juga adalah cowok pertama yang buat gue sakit hati." -Chintya Putri. "Aku nggak buang kamu, Tya. Sudah berapa kali aku bilang, aku nggak buang kamu. Aku sayang sama kamu. Mana mungkin aku meninggalkan orang yang kusayang tanpa sebab?" -Harditama Len. Tentunya semua orang tak suka 'menunggu'. Tya yakin siapa pun yang menyukai kata kerja itu berarti seseorang itu termasuk dalam kategori penyabar. Tapi tidak bagi Tya. Tya tidak menyukai kata kerja itu. Baginya menungu adalah sesuatu yang paling dia benci. Menunggu adalah hal paling membosankan dalam hidupnya. Menunggu sesuatu yang tidak pasti itu bukan dirinya. Apalagi jika yang ditunggu tidak punya perasaan. Tapi ternyata sebuah rahasia mengubah pilihannya. Membuatnya melupakan semua yang telah terjadi. Memilih pilihan itu, namun nyatanya dia terlambat. Ingin mengulang semua waktu, nyatanya dia tak dapat melakukannya.
All Rights Reserved
#55
stoppembajakan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Vericha Aflyn ✔️
  • I (Space) You
  • Dear You
  • Paradise
  • STORY KEISHA (TAMAT)
  • Segitiga [END]
  • Let Me Love You Longer
  • Waiting For You
  • PERFECT BAD COUPLE (TERBIT)
  • Sour Seventeen

#Judul awal 180 degree.# Vericha Aflyn. Perempuan yang akan menginjak usia 17 tahun, dalam beberapa bulan lagi. Dia bukan perempuan yang haus akan popularitas, bukan pula perempuan polos. Dia hanya perempuan biasa-biasa saja, dengan kisah yang tak biasa. Dia hanya perempuan biasa, yang mendambakan bahagia. Orang baru dan cerita baru, menghiasi hari-harinya. Tuduhan, siksaan, dan cibiran ia dapatkan. Mampu kah dia bertahan? Atau harus menyerah dengan keadaan? ---------- "Jangan pergi! Ini perintah, bukan permintaan!" Icha kembali menutup matanya, membuat air mata yang tertahan di pelupuk matanya terjatuh. Dadanya semakin terasa sesak, mungkin kah dia bisa bertahan? "H-hanya sebentar!" pinta Icha dengan lemah. "Lo harus janji, bakalan bangun lagi!" Setelah itu Icha hanya mengangguk, lalu bersandar di dada Isan. "Lo y-yang harus bangunin gue." Isan mengelus rambut Icha lembut, hati Isan terasa di cubit, saat dia dapat mendengar suara nafas Icha yang teratur. Isan meraih tangan kanan Icha, dan langsung menempelkan di dadanya. Mencoba memberi tahu Icha, tentang keadaan hatinya. Tak berselang lama, Isan di buat terkejut. Debaran jantungnya terasa berhenti, dengan nafas yang tercekat. Tangan Icha jatuh begitu saja di pahanya, nafasnya pun terputus-putus. Isan menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Dia dekap erat tubuh Icha, menahannya agar tak pergi. Matanya menatap hamparan bintang, dan indahnya bulan. Memohon keajaiban, dan meminta kesempatan. Isan berteriak lantang, menyerukan nama Icha. Memanggilnya untuk kembali. "ICHA!!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines