CORETAN TAK BERMAKNA

CORETAN TAK BERMAKNA

  • WpView
    Reads 460
  • WpVote
    Votes 29
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 22, 2019
Lekat kupandang kanvas, yang dulu ku sombongkan putihnya. Garis-garis wajah, mulai samar terbentuk. Pula coretan, yang tak bisa kusebut sebagai kata. Hanya sebuah teka-teki, tak perlu dimengerti. Begitupun kau dan dia. Kasat mata, tak ada artinya. Jika Tuhan berkehendak, pelangi kan tiba usai hujan reda. Seperti tawa yang ku rindukan. Meski terbelenggu, inilah yang mampu, membuka tabir itu. NB : Coretan tak bermakna, berisi cerita-cerita pendek. Tokoh dan konflik tak berkaitan satu sama lain. Kecuali memiliki judul yang sama.
All Rights Reserved
#862
pasangan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • CINDY : Sebelum Aku Pergi
  • Secangkir Kopi dan Seutas Rindu [ COMPLETED ]
  • • EUTANASIA •
  • AURA !!! (Ormling x lingorm)
  • Marriage Contract(LingOrm) E-book
  • Shadow That Fades
  • Stranger | Orine
  • Awal Bertemu Denganmu  COMPLETED ✔

"Apa yang sanggup memisahkan dua hati yang saling mencinta? Katakan padaku, Cindy." Suara Rayven terdengar serak, seolah setiap katanya membawa luka yang tak bisa disembuhkan. Tatapan matanya merintih, memohon jawaban dari gadis yang berdiri di hadapannya-jawaban yang mungkin bisa menyelamatkan hatinya dari kehancuran. Cindy menatap tanah sejenak, bibirnya bergetar. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap mata Rayven dengan pandangan yang dipenuhi air mata dan rasa sesal. Dengan suara yang lirih, sehalus angin yang menyesap di antara rinai hujan, ia menjawab: "Waktu, Rayven... dan tempat yang tak lagi sama." Air matanya jatuh, tanpa bisa dicegah, menyatu dengan tetes hujan yang membasahi dunia di sekitar mereka. Hujan turun seolah ikut menangis, mengiringi jiwa yang saling mencinta namun tak bisa bersama. Rayven menggeleng pelan, hatinya mencabik dari dalam. Ia meraih tangan Cindy, memohon dengan sisa harapan yang ia miliki, Namun Cindy menarik tangannya, perlahan tapi pasti, lalu melangkah mundur. "Kalau waktu memisahkan kita... maka aku akan menunggu selamanya!" Rayven berseru, suaranya nyaris patah. "Cindy, tolong... beri aku alasan! Kenapa kamu harus pergi? Kenapa bukan kita yang melawan dunia ini bersama?" Cindy tersenyum dalam tangisnya. "Karena tidak semua cinta ditakdirkan untuk dimenangkan, Rayven..." Kemudian ia berbalik, melangkah pergi, meninggalkan Rayven di tengah hujan yang kini terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines