My teacher is My lady

My teacher is My lady

  • WpView
    Reads 5,961
  • WpVote
    Votes 83
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jan 16, 2018
Hazela Nasution Gadis yang gemar membaca buku, pintar, cantik dan juga...wow...sexy. oh ya dia sangat tidak menyukai laki-laki hidung belang. karena kepintarannya gadis yang biasa dipanggil Hazel itu sekarang menjadi dosen baru di University Mosco Abadi, walau umurnya masih menginjak 23 tahun. Mark Laorend laki-laki humoris, namun sedikit menyebalkan itu biasa dipanggil Mark or Aren. dia mahasiswa yang cukup lama disini, ya karena selalu gagal saat tugas akhirnya karena itu dia dijuluki 'mahasiswa abadi' di kampusnya. "Kenapa kamu selalu menyebalkan seperti ini?hah?" ujar Hazela "Karena itu yang bisa membuatmu teringat tentang saya bukan?" (berjalan meninggalkan Mark) Apa Mark bisa mengambil hati dosen cantik itu?Entahlah..
All Rights Reserved
#118
teacher
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Oops, I fell for you (MarkHyuck)
  • match with a lecturer?! || On Going
  • ARTAN
  • SCRIPTSHIT (TAMAT)
  • KISAH KASIH AKHIR SEMESTER
  • My Possessive Dosen
  • PRIMADONAT |Mark lee|
  • Bound Hearts [END]
  • Hello My Love
  • So I Married My Crush (Curse!)

Harsael dan Marlo nggak pernah akur. Sejak semester satu, mereka udah kayak Tom & Jerry versi mahasiswa Ilmu Komunikasi: satu ngomong, satu nyela. Satu usul ide, satunya kritik habis-habisan. Dulu rebutan mic waktu presentasi, sekarang rebutan konsep di UKM Film. Sama-sama keras kepala. Sama-sama gak mau ngalah. Sama-sama... susah ditebak hatinya. Tapi ketika dunia kampus memaksa mereka untuk lebih sering satu ruang-entah karena proyek film, tugas kuliah, atau situasi yang... tiba-tiba terjadi-jarak di antara mereka mulai bergeser. Sebuah momen sederhana, tidak disengaja, sempat membuat napas mereka tercekat. Nggak ada yang ngomongin itu secara langsung, tapi sejak hari itu, sesuatu berubah. Marlo mulai memilih diam, Harsael mulai lebih hati-hati. Tatapan yang biasanya penuh sengit berubah jadi bingung. Pertanyaan mulai tumbuh: sebenarnya mereka benci... atau cuma belum sempat benar-benar kenal? Di antara layar-layar kamera, ruangan rapat UKM yang penuh ide, dan jalan pulang yang tak lagi sepi, Harsael dan Marlo mulai belajar bahwa tidak semua rival harus berakhir sebagai musuh. Kadang... justru jadi rumah paling nyaman.

More details
WpActionLinkContent Guidelines