My Disillusion

My Disillusion

  • WpView
    Reads 1,711
  • WpVote
    Votes 357
  • WpPart
    Parts 17
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Oct 1, 2017
Tuhan seperti merenggut paksa separuh dari hidupku. Hidupku yang awalnya damai. Tuhan selalu seperti itu, memisahkan orang-orang yang saling menyayangi. Terutama memisahkan orang yang paling aku sayangi. Aku kecewa. Sangat kecewa. Namun aku sebagai manusia biasa hanya bisa apa? Aku tak berdaya akan takdir yang telah Tuhan goreskan. Dan aku hanya bisa menerima semuanya. Menerima semua hal yang kadang pahit untuk diingat, sakit untuk dirasa dan sulit untuk dilupakan. Sekeras apapun aku menentang takdir, Sejauh apapun aku menghindar dari takdir. Takdir tak akan berubah. Tetap sama. Aku kecewa untuk yang kesekian kalinya. Luka yang tergores cukup dalam hingga mampu membuatku rapuh. Apalagi jika aku mengingat kenangan. Aku yang awalnya adalah sosok yang tegar seketika berubah menjadi sosok yang rapuh. Aku benar-benar tak berdaya. Hingga akhirnya rasa itu muncul. Kebencian yang hakiki, yang mampu mengubah semua rasa yang pernah ada. 20 Juni 2017
All Rights Reserved
#11
aboutlove
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hopeless
  • As Time Allows
  • We're destined to met, not to united.
  • Tears Of Sincerity [TERBIT ✓]
  • Delayed happiness
  • 15th Voltage [Tegangan 15] ✔(COMPLETED)
  • I'm broken [BHS#1]✓
Hopeless

[COMPLETED] "Whoever told you that life would be easy, I promise that person was lying to you." --Kondisi dimana tidak memiliki ekspetasi tentang hal-hal baik yang akan terjadi dan juga kesuksesan di masa mendatang. [Definition of Hopeless] Apakah ini tentang kisah cinta masa remajaku? Astaga, bahkan aku tidak yakin tentang cinta itu nyata. Yang aku tahu hanya luka dan luka. Itu saja. Tangisanku bukan tangisan patah hati, lagipula perasaanku sudah mati. Jiwaku diasuh oleh sepi, hingga teman terbaikku hanya rasa sendiri. Setidaknya aku punya mereka, orang yang mengajariku bahwa aku tidak sendirian. Meskipun ada kalanya aku menyerah dan pasrah. Apakah akhir ceritaku ini bahagia? Apakah aku akan terus berkawan dengan tangisan, hingga aku lupa cara untuk mencari kebahagiaan? Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang sakit secara jiwa, aku bersahabat dengan sesuatu yang mereka sebut depresi. Hingga yang kukenali hanya keputusasaan pada masa depan diri sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines