Story cover for Maaf dari Surga by sherlygoran
Maaf dari Surga
  • WpView
    MGA BUMASA 11
  • WpVote
    Mga Boto 4
  • WpPart
    Mga Parte 2
  • WpView
    MGA BUMASA 11
  • WpVote
    Mga Boto 4
  • WpPart
    Mga Parte 2
Ongoing, Unang na-publish Jun 16, 2017
Maafkanlah aku, atau hukumlah aku. 

Aku tak bisa menghentikan air mataku meskipun langit terlihat biru  dan hujan telah usai.

Maafkanlah aku, berilah aku petunjuk pelangi dan aku akan menjadi lebih baik lagi sesudahnya.

Aku berjalan sendiri dan kakiku terasa sakit, dimana jemarimu yang selalu mengunci jemariku?

Aku terjatuh dan dunia menertawakanku, dimana engkau yang terbiasa menepuk pundakku dengan lembut tanganmu?

Mungkinkah engkau sedang bersemayam di Surga yang sering engkau ceritakan?

Tentu saja engkau pasti ada di sana.

Kirimkanlah aku sepotong maaf itu dan aku akan melanjutkan semuanya dengan baik.

Kirimkanlah sepotong maaf itu dari Surga.....
All Rights Reserved
Sign up to add Maaf dari Surga to your library and receive updates
o
Mga Alituntunin ng Nilalaman
Magugustuhan mo rin ang
Magugustuhan mo rin ang
Slide 1 of 10
SUARA BIA (TAMAT) cover
BAM || Betapa Aku Mencintaimu (End) cover
Tell The World I Love U cover
Take Me To Your Heart  - The End cover
My Bromance [18+] End cover
Maaf' (Revisi) cover
Rama Prananta (Sudah Terbit) cover
Wrong Feeling ~Namon~ cover
FanBoy (SonPin) "END" cover
Truth in Love cover

SUARA BIA (TAMAT)

47 parte Kumpleto

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️