My Grimms'
  • WpView
    Membaca 617
  • WpVote
    Vote 56
  • WpPart
    Bab 7
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Min, Mar 11, 2018
WpInfo
Fiksi
Fantasi
Aku berteriak, menahan air mata kemudian aku terjatuh. Aku memeluk buku itu dengan erat... "Aku senang bisa menjadi bagian dari hidupmu, Hikaru." Jemarimu yang lembut mengusap air mata kesedihan. "Apa kalian mendengarku, Hansel, Gretel? Ada yang lebih menyakitkan daripada akhir yang menyedihkan, yaitu saat kita tidak bersama lagi." Langit pun meneteskan air mata saat melihat kisah kita. "Jika kau adalah whistling kidnapper, maka bawalah aku pergi dari dunia yang mengerikan ini." Tanganmu mencoba meraihku sekuat tenaga. Bisikkan... kata itu... bisikkan kata kunci agar aku tidak merasakan rasa sakit ini, rasa sakit yang menusuk hingga masuk ke dalam tulang rangkaku. Rasa sakit yang mereka sebut kesepian. -My Grimms'-
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#10
redridinghood
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • F.R.I.E.N.D.S ; The reason of parting (END)
  • MEMORIES(END)
  • Geng Bratadikara (TERBIT) ✓
  • Revenant: Kuntilanak Penyelamat
  • THE LINSEA HOLLOW
  • Yo Dream | Nct Dream✔(Terbit)
  • Villain Also Has A Reason [END]
  • ASRAMA LANTAI 7 {TERBIT} ✓
  • Hantu Naci Piuu! [END]

"Aku sangat mencintainya. Setiap malam aku selalu memikirkannya. Tapi apa dayaku? Di matanya aku hanyalah sahabat yang mungkin sudah dianggap seperti saudara sendiri. Kerap kali aku cemburu ketika dia bersama dengan wanita lain. Namun dia selalu tidak menganggap kegusaran hatiku. Membiarkan aku tenggelam dalam kepedihan, sendirian." "Dia cantik, sejak awal aku memandangnya telah ada rasa yang tak biasa. Matanya selalu mengundang getaran yang mendesirkan darah, mendebarkan jantung, hingga jari-jari bergetar hebat. Tapi rasa hanya sekadar rasa. Aku tak mampu untuk mengungkapkannya. Kedekatan kami tidak seromantis itu. Ada tembok besar berkedok persahabatan yang menghalangi hatiku untuk berbisik ke telinganya. Mungkin hingga kini dia pun hanya menganggapku tak lebih dari sekadar sahabatnya." "Biarlah aku diam, meski sebenarnya sangat ingin mengutarakan. Acapkali, menjadi pembohong itu perlu. Karena memang tidak semua kejujuran itu baik adanya. Mungkin selamanya hanya aku yang tahu tentang perasaan ini. Sudah tekadku. Demi kamu, demi dia. Demi kita."

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan