AUTUMN IN LOVE

AUTUMN IN LOVE

  • WpView
    Reads 38
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 19, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
JALANAN sepi. Langit gelap. Angin musim gugur bertiup kencang. Ia merapatkan jaket yang dikenakannya, namun tubuhnya tetap saja menggigil. Bukan karena angin, karena saat ini ia sama sekali tidak bisa merasakan apa pun. Sepertinya saraf-sarafnya sudah tidak berfungsi. Ia tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, tidak bisa bersuara, dan tidak bisa merasakan apa-apa. Kecuali rasa sakit di hatinya. Ia bisa merasakan yang satu itu. Sakit sekali.... Butuh tenaga besar untuk menyeret kakinya dan maju selangkah. Sebelah tangannya terangkat ke dada, mencengkeram bagian depan jaket. Tangan yang lain terjulur ke depan dan mencengkeram pagar besi jembatan. Pagar besi itu seharusnya terasa dingin di tangannya yang telanjang, tapi nyatanya ia tidak merasakan apa pun walaupun ia mencengkeram pagar besi itu sampai buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap kosong ke bawah. Permukaan sungai terlihat tenang seperti kaca besar berwarna hitam yang memantulkan cahaya dari lampu-lampu di tepi jalan. Air sungai itu pasti dingin sekali. Ia pasti akan mati kedinginan bila terjun ke sungai itu. Mati beku. Ia hanya perlu membiarkan dirinya jatuh. Setelah itu seluruh tubuhnya akan membeku. Rasa sakit ini juga akan membeku. Ia tidak akan merasakannya lagi.
All Rights Reserved
#146
autumn
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Secarik Kertas Pengantar Tidur
  • Bersamamu
  • MY HOPE IS YOU (END)
  • Yang Pernah Patah
  • SEBUAH USAHA MENCINTAI
  • Dokter Spesialis Mantan [ON GOING]
  • Narasi patah hati
  • HEARTBREAKING (On Going)
  • [End] Behind The Color

Kini malam adalah sahabat sekaligus algojo bagi Naka. Seribu sembilan puluh lima kali matahari telah terbenam sejak hari itu-seribu sembilan puluh lima kali kegelapan datang menghampiri, membawa serta kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Dia mencoba segalanya. Minum susu hangat sebelum tidur. Menghitung domba hingga angka yang tak masuk akal. Bahkan meminum pil tidur yang membuat kepalanya berat seperti batu. Tapi tak satu pun berhasil mengusir bayangan itu-bayangan seorang wanita dengan senyum yang dulu mampu menerangi kegelapannya. "Tuhan," desisnya malam ini, suaranya parau seperti kertas yang tergores. "Aku mohon... biarkan aku tidur tanpa mimpi. Hanya untuk sekali ini saja." Bantalnya basah sebelum ia menyadari air mata yang mengalir. Tangannya mencengkeram erat-erat kain itu, seolah takut suara hatinya yang pecah akan terdengar oleh dunia. Tiga tahun. Waktu yang cukup untuk menyembuhkan luka, kata orang. Tapi mengapa lukanya justru semakin dalam? Bertemu Vanya dulu seperti menemukan oasis di tengah gurun kehidupan. Wanita itu memberinya warna-warna yang tak pernah ia kenal sebelumnya-kuning cerah tawa mereka di Bromo, biru tenang obrolan larut malam, merah jambu pipi Vanya saat marah. Tapi sekarang? Semua berubah menjadi abu-abu. Kenangan itu berubah menjadi kutukan. Setiap kali ia menutup mata, yang terlihat adalah wajah Vanya yang hancur saat terakhir kali mereka bertemu. "Kalau ini yang terbaik untukmu, Nak, aku ikhlas." Dan kebodohan-oh, kebodohannya yang tak termaafkan! Malam ini, Naka menyerah. Dia mengambil buku kecil yang tersembunyi di bawah bantal-saksi bisu dari semua penyesalan yang tak terucap. Halamannya sudah keriput oleh air mata dan jari-jari yang gemetar. Naka menutup buku itu perlahan, seperti menyimpan kembali potongan jiwanya yang tercecer. Di luar jendela, Jakarta masih berdenyut dengan lampu-lampunya yang tak pernah tidur. Tapi di kamar ini, yang ada hanya seorang lelaki dan malam yang tak pernah benar-benar berakhir.

More details
WpActionLinkContent Guidelines