Ia Ambil Disaat Bunga Itu Mekar

Ia Ambil Disaat Bunga Itu Mekar

  • WpView
    Reads 55
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Apr 5, 2020
Mencintai seseorang itu ga sekedar ucapan kata. Mencintai itu berarti kita harus mempersiapkan hati yang akan terkena sayat-sayat luka perasaan sedikit demi sedikit pasti akan terasa. Mencintai juga mengajarkan kita agar bisa berkorban, berjuang, terjatuh berkali kali, menangis, dan harus bisa memendam terutama akan rasa. Gak semua ekspresi hati harus kita ungkapkan. Kita harus bersedia menerima keterbalikan yang kita harapkan. Ga semua mencintai itu akan bahagia. Tapi kita bahagia bila dicintai dan saling mencintai. Dan itu tidak berlaku jika hanya sebelah pihak saja yang berusaha. Jika diartikan secara benar, cinta itu bukan hanya sekedar main singgah sana singgah sini. Cinta itu benar-benar kesetiaan. Tapi kebanyakan orang salah dalam mengartikan cinta yang akibatnya akan berujung pada "patah hati" . Ga semua perjuangan itu berbuah manis. Kadang juga ketika berbuah manis kemudian diambil orang. Nah disitu kita berada pada 2 pilihan. kita perlu menanam lagi perasaan itu hingga berbuah manis dan bahagia atau menyerah dan mencari kebahagian lain. Oleh karena itu, buat orang yang sedang patah hati, "Jangan lupa kalau dirimu pun berharga! " .
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Anugerah Terindah
  • First Love Story (Complete)
  • Love or Dare [Completed]
  • Yang Tak Pernah Ada
  • Waktu dan Cinta
  • IF YOU KNOW
  • Yang Tertinggal
  • Mentor

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines