Jejak Sajak Ayah

Jejak Sajak Ayah

  • WpView
    Reads 4,258
  • WpVote
    Votes 17
  • WpPart
    Parts 21
WpMetadataReadComplete Thu, Aug 10, 2017
Ayah mengambil kacamata dari wadah kotak yang berbentuk semacam dompet. Lumayan tebal. Katanya itu kacamata turun-temurun dari kakek. Dengan bangga ayah memakainya dengan sempurna. Lalu tersenyum dan membuka buku catatan puisinya. Ini tulisan ayah yang ke sepuluh. Ayah memang hanyalah lulusan sekolah dasar. Ia lahir di daerah perkampungam kabupaten Tasik. Keadaan keluarganya yang miskin membuat ia tidak bisa melanjutkan sekolah. Padahal Ayah sangat pandai. Ia menyukai matematika, sejarah dan sastra. Meskipun ia tidak melanjutkan sekolah. Mimpinya tidak pernah padam. Segala macam usaha Ayah lakukan. Pengusaha? Ya. Pengusaha kecil-kecilan yang tidak menentu penghasilannya. Hasil dari perniagaan ia bagi untuk nenekku, uwaku yang hidup menjanda, dan untuk ibuku. Aku selalu antusias mendengar cerita hidup Ayah yang kaya akan petualangan. "Menulislah nak. Tidak ada batasan usia untuk menulis. Anak kecil, remaja, maupun orang yang yang telah lanjut usia. Semua boleh dan berhak. Jadilah orang yang selalu rendah hati dan jangan melakukan sesuatu hanya karena ingin dipuji." Ujar Ayah padaku. Itu pesan terakhir ayah yang sampai saat ini selalu terkenang dalam benakku. Tulisan ini bukan tentang perjalanan hidup Ayah. Melainkan merupakan sebagian antologi puisi yang Ayah tulis selama beliau masih ada. Selamat membaca. Semoga bermanfaat.
All Rights Reserved
#53
kerinduan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senja (Diangkat Dari Kisah Nyata)
  • [✔] HEY TWINS!
  • TIAP-TIAP PUNYA MASING MASING
  • PAIN [Boboiboy]
  • TENTANGMU YANG PERNAH ADA
  • TIME will TELL {On Going}
  • »The Love Behind Secrets!
  • Dingin (Boboiboy Halilintar X You) | END ✓ |
  • Another Dimension (The End)

Tepatnya 1 tahun 8 bulan sudah akan tiba. Dimana masa-masa yang sangat sulit, hari demi hari beriringan dengan sunggingan senyum manis dihampiri dengan perasaan yang masih membekas_memar. Aku perlu tau, seakan menjadi topik pembicaraan kita tempo hari_desakku. Aku hanya perlu pahami;setidaknya masa lalu adalah gambaran yang telah usang. Tapi, masih saja kerap sekali kau jaga dari debu. Aku fikir, kau sungguh tiada berujung sedih_nyatanya pahit. Berulangkali aku sering tak sadar akan kehadiranmu; menghantui kesesakan dalam dada. Seharusnya aku sadar_membohongi diri. Sebenarnya jiwaku meronta_rapuh;tapi kakiku beku, lidahku kaku. Berbuat semauku pun tak mampu. Aku harus ceritrakan sepenggal kata ini_setidaknya pada bayanganmu, atau sebait kalimat ini ku sampaikan pada nafasmu. Aku menyerah. Ya, aku pernah menyerah dan berlabuh dihatimu karena rapuh_sama halnya sekarang aku ingin berhenti_lari dari kenyataanmu. Kau bahkan tidak mau tau tentangku_nalarku hilang. Sama persis saat aku pernah kekosongan_kau pun mengisi hariku. Bagaimana aku dapat berisyarat_bergerakpun aku tak sanggup. Aku bagai terjerat;buram;kelam. Hari ini aku akan pastikan kau tidaklah takdirku. Dimana aku bisa bebas dan terbang;melompat dan menerjang_tidaklah keingiannmu. Bermimpi tentangmu tak jua masuk dalam hariku_masih ada yang mengkait dikepalamu_aku hanya persinggahan. Ini terlalu sakit yang mendalam. Aku bisa apa? Coba jelaskan kepada selembar kertas jawabmu_mungkin aku dapati. Setidaknya kau tidak membiarkanku terjerat. Aku bisa berbuat apa dengan menjalani hubungan ini tanpa tulusmu mencintai kekuranganku. Aku tak mampu dengan keinginanmu. Aku sungguh tiada daya. Ku mohon maafkan kelemahanku. Itulah mungkin sebabnya kau masih mencari separuh yang pernah hilang dan tertinggal. Aku bersedia kau tinggalkan tanpa syarat apapun, asal titipkan salammu sebagai suatu tanda kau pernah menjadi penghias hariku_kelam. Aku bersedia_tinggalkan aku saja, mungkin itu lebih baik bagimu_kehilangan. April 2017

More details
WpActionLinkContent Guidelines