She Went to My Arms

She Went to My Arms

  • WpView
    Reads 62
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 29, 2017
Matahari bersinar begitu terik, tapi tidak sampai menyengat karena hawa di lereng gunung membuatnya sejuk damai. Bukan apa-apa, hanya saja sinar itu masih bisa menembus celah-celah dedaunan yang akhirnya menyapa sebagian pipi dan mataku. Aku berusaha menikmati setiap sapann sinar itu, dengan angin semilir dan suara-suara alam membuat hati ini semakin tenang, setenang aliran parit di sebelah kananku. "Berapa lama kamu duduk disini?" "Tidak lama, mungkin duabelas menit saja." "Apa kamu yakin?" "Ya, saya yakin. Hidup ini terlalu mengerikan jika kau hanya menjadi budaknya. Coba sebentar saja kamu duduk seorang diri, menikmati sajak-sajak alam. Akan kupastikan kamu merasa tenang. Bahkan kamu merasa memang benar-benar hidup." "Hidup, ya benar sekali, hidup.. Apa kamu juga yakin bahwa esok hari kau masih hidup?" "Aku tidak yakin akan hal itu. Seandainya saja aku bisa menjamin bahwa duabelas detik yang akan datang aku masih bisa bergurau denganmu, bahkan masih bisa bernafas. Tak terprediksi, maka dari itu sebelum aku pergi meninggalkan bumi ini, aku tidak mau menyesal karena ak lou menjalani kehidupan yang datar. Aku mencoba keluar dari zona nyamanku, menjadi pribadi yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Meski aku mengambil resiko besar, aku pasti akan senang jika aku pergi dengan keadaan bibir yang tersenyum dan hati yang begitu ikhlas. Merasa nyaman. Hingga aku lupa pedihnya hidup di dunia." Dialog Sania dengan lelaki misterius.,
All Rights Reserved
#188
tragis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hidup di Dalam Bayangan
  • Kenapa Harus Aku?! || Kim Sunoo [END]✓
  • Pertemanan di balik Kutukan [On Going]
  • SELA ta KEY [END]
  • Dusk In Your Eyes
  • For My Daughter
  • Full Of Scratches
  • Xagala
  • TIME will TELL {On Going}
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)

Prolog Dibawah Pohon Mangga sangat besar dan ditambah ayunan gantung yang menghiasinya membuat gadis kecil saat itu sangat nyaman diposisi memeluk kedua lututnya, ditambah dengan hembusan udara yang sejuk membuatnya hanyut dalam fikiran yang tidak tau apa saat ini yang dia fikirkan. Gadis mungil yang penuh tatapan kosong itu adalah aku. Tidak tau sudah berapa lama aku duduk diposisi saat itu, yang jelas saat aku tersadarkan diri kedua kakiku telah keram. Tidak terasa ada butiran air yang menghangatkan disekitar kelopak hingga ke pipi ku, menyesalkan semua yang pernah terjadi antara aku dan kamu. Proses yang telah membuat kita dekat. Dulu hanya sekedar kamu aku, tetapi nyatanya telah berubah menjadi kita. Dulu hanya sekedar sapa, tetapi nyatanya telah berani saling merindu. Dulu hanya sekedar percakapan biasa, tapi nyatanya sangat luar biasa sehingga tak jarang membuat kita sering bertengkar. Suasana berubah menjadi gelap. Mentari telah menyelesaikan tugasnya saat ini, dan kembali bersembunyi dibalik bumi. Seperti biasa, aku menepati janji ku untuk selalu hadir disini. Meski tampak bodoh, menunggu mu sungguh sangat membuatku lelah. Dan berfikir untuk apa aku menunggu. Nyatanya aku tidak tau dimana tempat dirimu kini singgah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines