HauntSch
  • WpView
    LECTURES 177
  • WpVote
    Votes 64
  • WpPart
    Chapitres 4
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication ven., juin 23, 2017
Apa bedanya aku dengan anak-anak lain? Aku punya sepasang mata, hidung, mulut, dan sepasang telinga. Aku punya keluarga, punya teman, dan aku bersekolah. Ya, aku memang manusia biasa. Bahkan terlalu biasa untuk hal-hal yang berbau tidak biasa. Hal ghaib, misalnya. Dalam hidupku, aku hanya percaya pada hal yang bisa kulihat, kudengar, kuraba, kurasakan, serta yang bisa kuterima akal sehatku. Makhluk-makhluk halus jelas tidak bisa kuindrakan dan tidak bisa kuterima dengan akal sehatku. Jadi, bagaimana aku bisa memercayainya? Meskipun aku berada di tempat seangker apapun, kurasa aku tidak akan melihat makhluk halus apapun. Lihat saja. Sekolahku terkenal sangat angker. Beberapa murid pernah kesurupan di sana. Orang-orang pun mengaku seringkali melihat berbagai penampakan makhluk macam itu. Mereka melihat, kenapa aku tidak? Sekali lagi, Apa bedanya diriku dengan anak-anak lain? Baiklah. Ini kisahku dan sekolahku yang konon katanya sangat angker itu. Ini kisahku dan ketidakmampuanku melihat 'mereka' yang sebenarnya berada di sekitar. Sekitarku dan juga sekitarmu. Ini kisahku dan rasa penasaranku yang mungkin akan menyeretku lebih jauh kepada sesuatu yang lebih mengerikan daripada selama ini.... ... ... ... ... Apapun yang menungguku di ujung lorong sana, aku harus menghadapinya.
Tous Droits Réservés
#23
abstrak
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Memories in Moon
  • TIREYA
  • Unseen [END]
  • M E M O R Y  (On Going)
  • CATATAN HARIANKU
  • The Grey Of SAKARUNA
  • My ice girl
  • Revenant: Kuntilanak Penyelamat
  • Man Without Light
  • NaYon

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu