My Neglected Pain

My Neglected Pain

  • WpView
    Reads 310
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadComplete Mon, Jan 1, 2018
"Rasanya aku akan gila, aku tidak bisa menahan nya lagi, air mata ku terus membasahi pipi ku, dadaku terasa sesak, hatiku begitu sakit, kepalaku tidak berhenti berfikir rasanya begitu sakit sampai aku membayangkan bagaimana caranya aku agar rasa sakit ini hilang, haruskah aku mengakhiri hidup ku ini. aku masih bertahan karena ada seorang yang sanagat aku cintai dan berharap ia bisa membawa ku jauh dari jurang yang ingin aku datangi. -febriana Tulisan ini tentang seorang gadis dengan kegilaan dan kepedihan hidup yang tidak seharusnya di tanggung nya sendiri di usia yang masih sangat muda -Ali mahendra Yang jatuh hati kepada gadis rapuh yang berpura-pura kuat, Yang memendam segalanya sendiri. Ya febriana sahabatnya yang begitu rapuh. Selamat membaca😀
All Rights Reserved
#22
peduli
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Saat Janji Menjadi Luka (OnGoing)
  • Mahligai Sunyi
  • only he is the one i want [ lilynn ]
  • Dear of Natasya
  • Di Antara Tawa dan Tragedi
  • Antara Cinta dan Persahabatan
  • Silent Scars | Orine
  • Obsessed With Female Dancers -Orine [Revisi]

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines