Titania
  • WpView
    Reads 251
  • WpVote
    Votes 30
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 23, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
Di antara ketiga temanku, hanya aku yang masih jomlo. Di antara ketiga temanku, hanya aku yang tidak pernah jalan sama cowok. Di antara ketiga temanku, hanya aku yang ditolak cowok mentah-mentah. "Titania suka sama gue? Dih, najis!" Ucapan yang sederhana namun membekas di hatiku entah sampai kapan. Aku menyukainya, bahkan kurasa sudah menuju pada tahap mencintai. Tapi, ketika dia tahu jika aku menaruh hati padanya, dengan lantang dia mengatakan hal seperti itu. Sebegitu menajiskannya-kah aku? Aku jelek, memang. Aku tidak putih seperti Aisyah. Aku tidak seksi seperti Nia dan aku tidak manis seperti Elsa. Tapi, sejak saat itu, aku berusaha merubah diri. Menjadi Titania yang baru. "Padanya aku berharap, darinya aku tersakiti."
All Rights Reserved
#513
bertepuksebelahtangan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • JATUH CINTA SETELAH MENIKAH
  • Teater in Love
  • Red Flag : Love That Binds
  • Hubungan dalam Kerumitan (End)
  • Aku, Kamu, dan Takdir Tuhan
  • Pretty Careless
  • Rendra & Lila [END]
  • KU CARI JALAN CINTAKU
  • Pengantin Bayangan (SELESAI)

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines