Mantan Gebetan

Mantan Gebetan

  • WpView
    Reads 63
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jul 5, 2018
WpInfo
Non-Fiction
Luna Raveena, perempuan ini sangat anti dengan nama "cinta" apalagi "cinta monyet" menurutnya itu membuang waktu, lebih baik dia merasakan cinta pada waktunya, bukan saat putih-biru seperti ini, tapi bagi teman-temannya masa putih-biru adalah masa kita mengenal yang namanya cinta monyet. Akankah Luna jatuh cinta di masa putih birunya? Alvaro Geraldo, laki-laki yang terkenal dengan julukan "buaya darat" di angkatannya, selalu mencari perempuan yang menurutnya bisa melepas rasa bosannya. Tapi apakah Varo bisa membuang jabatannya sebagai buaya darat itu?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Realita & Waktu
  • You Are My Destiny
  • INI CINTA BUKAN BENCI
  • Kita Dan Putih Biru
  • Stand By Me
  • (Not) A Dream School (On Going)
  • [BL] Stay With Me
  • Semu [Completed]
  • DAVARA

Kanaya Nathania merasa dunianya kehilangan warna. Sebagai mahasiswi DKV tingkat akhir, ia justru membenci kanvasnya sendiri. Di bawah tekanan ekspektasi di Jakarta, Kana melarikan diri ke Bandung dan menetap di rumah neneknya. Di sana, ia bertemu Kalandra Javero Alvarendra, tetangga sebelah rumah yang hidupnya selalu diatur oleh perhitungan matang dan keteraturan. ☕☕ "Kenapa kamu repot-repot peduli, Ver? Hidupku ini cuma sketsa rusak yang mau aku buang," bisik Kana. Javero menyesap sisa kopi pahitnya. "Menurut saya, nggak ada manusia yang rusak sampai harus dibuang, Kana. Kamu cuma lagi kehilangan arah." Kana tertawa getir. "Dan kamu pikir kamu bisa ngeberesin hidupku?" Javero melangkah lebih dekat. "Saya nggak berniat ngeberesin kamu. Saya cuma mau memastikan, pas kamu mutusin buat jalan lagi nanti... kamu nggak perlu sendirian ngitung detiknya." Di tengah kejaran skripsi dan kenyataan yang mencekik, keduanya belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan hanya dengan kepala dingin.

More details
WpActionLinkContent Guidelines