PAINTED // [SELESAI]

PAINTED // [SELESAI]

  • WpView
    Reads 63,479
  • WpVote
    Votes 2,972
  • WpPart
    Parts 56
WpMetadataReadComplete Thu, Sep 3, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Bagi Rama, Melodi adalah gadis terpolos yang pernah ia temui. Dia itu introvert, dan dia itu punya julukannya sendiri. Katanya, Melodi itu bagaikan kanvas putih yang masih suci. Bagi Melodi, Rama adalah laki-laki ter-ramah yang pernah ia temui. Hidup Melodi itu selalu dipenuhi oleh kesunyian. Saat bertemu dengan Rama, rasanya kesunyian itu pergi begitu saja. Rama juga berani menjadikan dirinya yang seperti kanvas putih itu menjadi penuh warna. Seperti yang dikatakan Rama. "Kamu itu objek paling indah yang harus dilukis." © 2017 by belgahem. #962 in Short Story [7-4-18] #537 in Short Stroy [8-4-18] #386 in Short Story [15-4-18]
All Rights Reserved
#8
ceritpendek
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • melody dan hujan yang jatuh di bulan april  { TAMAT}
  • QUEEN RERE [END]
  • ROOM 49
  • My Perfect BoyFriend
  • 00.07 WIB [SELESAI]
  • Dependency ✓ [Sudah Terbit]
  • M E L O D Y ( Senandika  )
  • BRAGA (REVISI)
  • My Perfect Senior [Completed]

Bab 1 - Senin yang Terlambat Senin pagi. Hujan tipis mengguyur kaca jendela kamar Melody, menciptakan irama lembut yang justru membuatnya makin enggan beranjak dari kasur. Jam sudah menunjukkan pukul 07.13, dan kelas pertamanya di kampus mulai pukul 07.30. "Melody!" suara Ibu terdengar dari dapur, setengah berteriak. "Nanti telat lagi, lho!" Dengan enggan, Melody menarik selimut dari tubuhnya dan duduk di tepi ranjang. Rambutnya berantakan, mata masih setengah terbuka, tapi kepalanya sudah dipenuhi daftar tugas kuliah dan drama organisasi yang menunggu di kampus. Di halte dekat rumah, ia berdiri sambil memeluk jaketnya yang tipis. Udara dingin membuat hidungnya memerah. Saat itulah, seorang cowok dengan hoodie abu-abu dan earphone di telinga berdiri di sebelahnya. Wajahnya biasa saja, tapi ada sesuatu dalam sorot matanya-tenang, tapi tampak seperti menyimpan banyak cerita. Ia menoleh sebentar ke arah Melody, mengangguk singkat. "Hujannya enak, ya," katanya tiba-tiba. Suaranya dalam, tapi tidak berat. Melody cuma mengangguk sambil sedikit tersenyum. Bukan karena ucapannya, tapi karena ini pertama kalinya ada orang asing yang membuka obrolan dengannya pagi-pagi buta begini.

More details
WpActionLinkContent Guidelines