INDO TRANS "WINGS" Concept Book Interview With BTS

INDO TRANS "WINGS" Concept Book Interview With BTS

  • WpView
    Reads 684
  • WpVote
    Votes 58
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadComplete Wed, Jul 19, 2017
Interview ini berdasarkan yang ada pada buku, w dapet yang berbahasa inggris, jadi w inisiatif buat terjemahin ke bahasa indo buat mempermudah juga sih. w bakalan update interview per member tapi mungkin bakalan agak telat update, karena beberapa masih dalam proses pengerjaan, klo masih ada beberapa interview member yang belom w artiin ke bahasa indo, sabar aja. Dan buat kalian yang mau repost pls, sertakan CR, karena ng translate itu butuh perjuangan, w butuh berhari-hari dan yang terpenting w mikir bukan asal translate, klo ada kata-kata yang agak rancu mohon maklumi karena w bukan masternya. Dan klo ada yang typo maklumi juga karena ahying ngetik make leungeun.. ^^ ok. thx
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • All About Of BTS
  • ASRAMA LANTAI 7 {TERBIT} ✓
  • Perihal Sandwich(End)
  • 𝗡𝗢𝗧 𝗦𝗜𝗕𝗟𝗜𝗡𝗚𝗦 | jk.
  • [Complete] BTS LOVE STORY (Fanfiction/imagine)
  • HILDAN'S STORY
  • BTS theory
  • Shorts: Lee Cute Jeno [Selesai]
  • Our Juvenile : MANGUN KARSA

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines