Ilusi
  • WpView
    Reads 59
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Sep 3, 2021
Sudah berjalan sekitar satu tahun aku menaruh perasaan ini, dan berikut setiap harinya selalu semakin dalam, dalam, dalam. Meskipun kau sudah membuat aku hancur dengan menghempaskan aku secara perlahan, menorehkan luka yang tidak terlihat oleh kasat mata. Belum juga luka ini sembuh, aku terus-menerus menciptakan ilusi tentang dirimu yang seakan-akan bisa membuatku bahagia nantinya dengan sikap manismu padaku seperti apa yang kau lakukan dengan kekasihmu. Berbicara tentang kekasihmu, aku masih ingat saat kau melarangku dengan paksa dari tatapanmu bahwa aku tidak boleh mengetahui siapa kekasihmu. Namun Tuhan berkehendak lain, Ia mengizinkanku melihat semua kisah kasihmu dengan belahan jiwamu. Konyol memang setelah aku mengetahui itu, kenapa aku masih berharap padamu? Aku hanya bisa menjawab "entah", karena aku telah mencoba melampiaskan semua rasaku ini kepada orang-orang terdekatku tapi tetap saja rasa ini kembali padamu. Bodoh memang setelah aku merasakan sakit begitu dalam, kenapa aku masih berharap dan terus berharap? Jawabannya mudah "mungkin ini yang dinamakan cinta". Atau memang itu sudah takdir dari Tuhan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Cerita Tentang Kita
  • Rinai
  •  Aku Dia dan Dia
  • You're Here, But Not For Me
  • Antara Jarak Dan Waktu
  • Cahaya Dirimu
  • Love In Paris (COMPLETED)
  • Full Of Scratches

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines