Hold My Hands

Hold My Hands

  • WpView
    Reads 116
  • WpVote
    Votes 15
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jul 24, 2017
Kirana Larissa Nugroho hanya mendambakan seorang lelaki yang tinggi minimal 25 cm dari dirinya, memiliki mata sewarna biru laut tapi orang Indonesia asli, serta yang paling utama: pencinta hujan seperti dirinya. Syarat yang terlalu cheesy dan muluk, kalau kata Lani dan Rianty. Tapi Kirana tidak peduli. Ia akan betah tetap sendiri, sampai lelaki impiannya itu menghampiri. Dan harapannya terkabul. Arnanda Prasetya Aghnia Hanindipto adalah jawaban yang diberikan Tuhan untuknya. Hadir dengan cara yang sempurna. Memenuhi harapan muluk hingga ke syarat paling utama. Lelaki itu juga hadir dengan membawa kejutan-kejutan lainnya. Yang membahagiakan. Serta luka yang memilukan. Masa lalu yang berusaha dikubur, tiba-tiba saja menyeruak tanpa diundang. Sesuatu yang dapat mengguncang kisah sempurna yang baru saja Kirana dapatkan. Dengan segala halangan yang ada, setelah sekian lama waktu terlewat untuk akhirnya saling menemukan, mampukah mereka tetap berpegangan? * NB: Cerita ini diikutsertakan dalam #WAWA2017 #litAwards
All Rights Reserved
#49
highschoollife
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kasat Rasa [Ongoing]
  • BR[OK]EN HEART [END]
  • My Story
  • JUST ADMIRER
  • REVANARA
  • Rahasia Kita [END]
  • Lovakarta
  • Ragashka [END]
  • INTUISI [END]

Keduanya sama-sama tertawa ketika suasana perlahan mencair. Juwita yang mulai membuka diri kini kembali melontarkan pertanyaan acak yang Ia sesali setelahnya. "Kamu kalo kesini sama siapa, raf ? Pacar ?" Raut lelaki itu tiba-tiba berubah. Tatapan matanya berpendar kearah lain, menyembunyikan cemas yang tersirat di balik jawabannya yang santai. "Pacar saya lagi gga di sini, Rei. Dan dia bukan anak tongkrongan kayak kita." Tanpa sadar gadis itu menahan nafasnya sendiri, belum siap dengan jawaban yang diterimanya. "Oh, gitu. Udah lama LDR-nya ?" Juwita bertanya lagi dengan wajah ingin tahu, walau kenyataannya justru sebaliknya. Sebab menurutnya akan aneh ketika topik itu hanya berhenti sampai di situ saja. "Sejak lulus kuliah. Dua bulan yang lalu. Dia sekarang lagi lanjutin S2 di Jakarta." "Wowww,,,hebat ya dia masih semangat untuk kuliah. Limitted edition tuh cewek kayak gitu. Kamu beruntung, raf." Lelaki itu hanya menjawabnya dengan senyuman tipis. Kepalanya menunduk, menyembunyikan wajahnya dari Juwita yang sedang menatapnya nanar. Setelahnya, obrolan itu terjeda beberapa saat. Keduanya kembali sibuk dengan isi kepala masing-masing. Juwita yang merasa bersalah karena telah menghadirkan pembahasan yang berat, juga Asraf yang kini sedang mengabaikan kenyataan yang membuat suasana kembali hening. "Kayaknya salah banget ya kita baru ketemu sekarang ?" Rasanya seperti ada sebuah kekuatan besar yang menyerap habis suara-suara di sekitar mereka. Heningnya terasa mencekam ketika hanya ada suara Asraf dan debar jantungnya di sana. Pertanyaan Asraf tadi menggaung di telinga, menimbulkan rasa perih yang tidak seharusnya ada. Untuk apa Ia merasa kecewa ketika tahu bahwa Asraf ternyata sudah punya pacar ? Bukankah mereka tidak pernah memiliki hubungan yang spesial sebelumnya ?

More details
WpActionLinkContent Guidelines